SLEMAN- Bukan hanya bejat, tapi juga keji. Itulah perbuatan Rubiman alias Boman, 53, warga Berbah, Sleman. Tega-teganya dia mencabuli anak kelas 1 SD. Bahkan perbuatan bejatnya itu dilakukan di sebuah kandang sapi. Lebih miris, sang korban, sebut saja Mawar, 7, ternyata penderita low vision.

Sontak ibu korban pun berang. Begitu dilapori langsung oleh anaknya. Tanpa pikir panjang ibu korban segera melaporkan perbuatan Rubiman ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Anggaito Hadi mengatakan, kasus itu terjadi pada 8 Oktober 2018. Namun sampai saat ini perkara tersebut termasuk salah satu yang menjadi fokus perhatian penyidik. Terlebih korban masih anak-anak. Sedangkan pelaku merupakan tetangga korban. “Kasus ini masih berjalan. Boman sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya Kamis (21/2).

Anggaito memastikan kasus tersebut tak lama lagi akan disidangkan. Polisi memiliki alat bukti kuat untuk menjebloskan Rubiman ke sel prodeo. Penyidik juga telah menyita barang bukti berupa seragam sekolah milik Mawar dan hasil visum dari Rumah Sakit Bhayangkara. Rubiman dijerat pasal 82, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polres Sleman Iptu Bowo Susilo menjelaskan detail kronologi kejadian perkara itu. Bermula saat korban pulang dari sekolah bersama ibunya.

“Mereka mampir ke kandang sapi dan bertemu pelaku. Saat itu korban masih berseragam, pelaku lantas mengusulkan ke ibunya untuk pulang agar mengambil baju ganti. Sementera korban dititipkan kepadanya,” ungkap Bowo.

Ibu korban pun menyetujui usul pelaku. Dia percaya dan tak berpikir bakal ada sesuatu hal menimpa pada Mawar. Apalagi pelaku adalah tetangga dekat. Ibu korban lantas meninggalkan Mawar bersama Rubiman. Saat itulah pria paro baya itu menanggalkan pakaian korban satu per satu dan mencabulinya. Sedangkan korban berontak. Dia menolak menuruti nafsu bejat tersangka. Namun Rubiman tetap nekat mencabuli korban. “Korban sempat bilang, aja Pakdhe,” beber Bowo.

Sekitar 10 menit berlalu ibu korban kembali ke kandang sapi sambil membawakan baju ganti. Ketika sang ibu sampai di kandang, si anak lantas melapor jika dia baru saja digerayangi pelaku. Mendengar hal tersebut, ibu korban marah. Dia langsung melaporkan hal tersebut ke polisi.

Mendapat laporan itu, petugas langsung terjun ke lapangan mencari pelaku dan menangkapnya. Di hadapan penyidik Rubiman mengakui semua perbuatannya. Saat diinterogasi, dia mengaku gemas karena melihat tubuh korban yang agak gendut.

Sebelumnya, di Bantul juga pernah terjadi kekerasan seksual terhadap anak. Bahkan pelakukan adalah orang tua kandung korban. Pelaku tega mencabuli darah dagingnya yang baru berusia 2,5 tahun.

Ketua Umum Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) DIJ Sari Murti menyatakan, kasus perundungan seksual terhadap anak memang masih sering terjadi. Ironisnya, para pelaku didominasi orang terdekat korban. Bahkan tak sedikit anak yang menjadi korban kebiadaban orang tuanya sendiri. ”Ada anak umur setengah tahun diduga dirundung oleh ayah kandung atau ayah tirinya. Atau orang terdekatnya,” ungkapnya.

Penyebab perundungan, menurut Sari Murti, ada berbagai macam. Salah satunya karena penyimpangan seksual. Pelakunya bisa orang dewasa atau bahkan teman sebaya korban.

Sari Murti menegaskan, masalah tersebut menjadi “PR” besar bagi semua pihak. Baik pemerintah, lembaga penegak hukum, hingga masyarakat. Untuk menekan terjadinya perundungan seksual, khususnya terhadap anak-anak. (har/yog/mg1)