JOGJA –  Ulah OS,17, saat menghardik gurunya di depan kelas sempat viral di media sosial (medsos) sejak Rabu (20/2). Dalam video berdurasi 30 detik itu, siswa SMKN 3 Kota Jogja tersebut tampak seolah akan beradu fisik dengan sang guru. Dia berteriak meminta gawainya. “HP-ku endi (mana HP saya),” katanya. Siswa lain yang mengetahui hal itu pun bersorak sorai. Mereka malah tepuk tangan.

Kepala SMKN 3 Kota Jogja Bujang Sabri membenarkan video tersebut terjadi di institusi yang dipimpinnya. Namun, dia menyangkal sebagaian opini yang beredar. “Saat itu mau ulangan dan guru meminta handphone siswa dikumpulkan. Siswa tersebut menolak dan terjadilah kejadian itu,” jelasnya Kamis (21/2).

Menurut Bujang, peristiwa tersebut terjadi Rabu (20/2) sekitar pukul 11.00 di kelas X, jurusan teknik kendaraan ringan.

Saat itu Sujianto, guru bersangkutan, tak hanya menyita HP milik OS. Dia juga menyita sebuah gawai lain dan kertas catatan materi pelajaran. Sujianto melakukan hal itu agar para siswa tak mencontek saat ulangan.

OS memang memiliki catatan buruk di sekolah. Dia pernah tidak naik kelas dan beberapa kali dipanggil bimbingan konseling (BK). Meski statusnya saat ini sebagai siswa baru. Karena harus mengulang daftar ulang.

Sujianto mengaku sempat emosi atas ulah anak didiknya. Apalagi OS sempat menolak menyerahkan gawainya. Bukannya menurut, OS malah membuat gerakan fisik menantang. Dia juga menyita tas berisi laptop milik gurunya itu.

“Berusaha menyabarkan diri, tapi ya ada emosi. Tapi tetap sabar,” ungkap Sujianto. “Saya suruh dia (OS) tenang dan duduk karena mau ulangan. Saat handphone disita, saya bilang yang ambil ibunya,” kata pria 55 tahun itu.

Sujianto lantas menyuruh OS duduk. Lalu keduanya sepakat barter. Gawai ditukar  tas berisi laptop. Itu dilakukan Sujianto karena khawatir OS membanting laptopnya. OS  kemudian kembali duduk dan mengikuti ulangan pelajaran pemeliharaan dasar otomotif.

Sujianto menegaskan, penyitaan HP merujuk aturan sekolah. Siswa dilarang menggunakan gawai saat ulangan. “Sampai selesai jam pelajaran ya kembali seperti biasa. Tidak ada ancaman apa-apa. Tidak lapor polisi juga, kekeluargaan saja,” kata Sujianto.  “Kalau (HP, Red) yang lain saya kembalikan usai ulangan,” tambahnya.

Kemarin OS datang ke sekolah bersama orang tuanya. Meski semula dia sempat izin sekolah dengan alasan tidak enak badan. Kehadiran OS bersama orang tuannya untuk meminta maaf.

OS mengakui segala perbuatannya dalam video. Dia berdalih tidak punya tujuan melukai Sujianto. OS menilai aksinya kala itu sebagai guyonan. Agar tidak spaneng. Bahkan saat dia menceritakan kronologi kejadian dalam video juga sambil cengengesan. Dia mengklaim tindakan seperti itu biasa terjadi di kelas.

“Karena sudah biasa. Ambil tas (isi laptop, Red) agar bisa ditukar dengan handphone saya. Tidak ada ancaman di luar atau pukul-pukulan. Saya dorong karena meminta (gawai) dikembalikan,” kilahnya.

Dia mengaku baru menyadari tindakannya keliru setelah video itu viral di medsos.

Kapolsek Jetis Kompol Hariyanto menyatakan tak ada tindakan hukum dalam peristiwa itu. Sebab, Sujianto maupun sekolah bersangkutan tidak membuat laporan. Kendati demikian, Hariyanto memastikan akan ada pembinaan terhadap OS. Menurutnya, aksi remaja tanggung itu sangat tidak etis dan tak sopan.

“Tanggungjawab kami juga untuk membina agar moral siswa jadi benar,” tegasnya. “Menghargai guru bukan bertindak seperti di video itu. Meski maksudnya bercanda, tetap tidak etis,” tadas Hariyanto. (dwi/mg4)