MUNGKID – Ingin lebih bisa meningkatkan penjualan, para petani di Lereng Gunung Merbabu memanfaatkan aplikasi Regopantes.com. Petani di Dusun Dukuh, Sumberejo, Ngablak, Kabupaten Magelang, ini tidak perlu repot pergi ke pasar, namun cukup dengan mengunggah foto ragam hasil pertanian mereka ke aplikasi.

Pelanggan atau pembeli dari manapun bisa melihat sekaligus bisa bertransaksi dengan para petani. “Kami sudah memanfaatkan aplikasi ini sejak satu tahun lalu. Kami pun lebih mudah jualan karena hanya lewat HP,” kata petani Sumberejo, Suratman.

Selain memudahkan petani memasarkan produknya, dengan aplikasi ini diharapkan bisa memutus panjangnya mata rantai penjualan yang berakibat harga rendah di tingkat petani, namun tinggi di tangan konsumen. Berbagai sayuran yang diproduksi dan dipasarkan oleh mereka, antara lain, sawi, okra, timun, daun mint, peterseli, wortel, buncis, kacang panjang, hingga oregano dan cabai. Menariknya, seluruh hasil pertanian mereka sudah organik.

“Harga yang dipatok juga sudah sesuai alias pantes, baik kami petani dan konsumen tidak rugi. Misalnya cabai rawit merah Rp 30.000 per kilogram. Semuanya organik, kami pakai metode ramah lingkungan, mulai dari pupuk dan perawatannya,” tuturnya.

Aplikasi RegoPantes resmi diluncurkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada peringatan Hari Tani Nasional 2017 tingkat Provinsi Jawa Tengah, awal September 2017.

Pria yang juga Ketua Pelaksana Harian Kelompok Tani Bumi Lestari Desa Sumberejo itu menambahkan, sistem pertanian organik memang baru diterapkan di areal seluas tiga hektar. Namun di 57 hektare lainnya, petani juga menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan, dengan harga yang lebih baik dibanding non organik.

“Ada sekitar 89 item yang kami pasarkan. Namun baru 30-an yang terserap, sisanya tetap kami jual online ke sesama organik. Mayoritas suplier di Semarang dan Jogja,” ujarnya.

Kepala Bidang Tamanan Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Eko Widi Hermanto menjelaskan, para petani era sekarang memang dituntut untuk melek teknologi. Pemasaran hasil pertanian tidak harus secara konvensional di pasar, tapi juga media daring seperti aplikasi Regopantes. Kemudian petani juga dituntut bisa berinovasi dalam sistem pertanian mereka.

“Sudah sejak setahun lalu para petani menjadwal penanaman tanaman cabai di 10 kecamatan itu. Dengan demikian, tidak ada lagi panen raya, tapi justru panennya merata. Penjadwalan ini telah dilakukan di 10 kecamatan, yakni Grabag, Secang, Pakis, Sawangan, Candimulyo, Dukun, Srumbung, Kaliangkrik, Kajoran dan Windusari,” ungkap Widi.

Eko menjelaskan, metode ini menjadi patokan petani ketika hendak menanaman cabai sesuai waktu dan jenis cabainya. Misalnya pada bulan Januari-Maret, petani menaman cabai keriting, selanjutnya cabai rawit merah, dan seterusnya.

“Dengan mengatur giliran tanam, kami membatasi agar luas arela cabai tidak melebihi 500 hektare per bulan. Atau tidak lebih dari 17 hektare per hari,” tandasnya. (laz)