SLEMAN – Seorang kepala cabang diler motor Yamaha Harpindo Mlati berinisial IG, 36, warga Umbulharjo Jogja ditangkap polisi. Dia dilaporkan karena menipu belasan konsumen. Pelaku memalsukan kuitansi pembelian dan bisa meraup uang ratusan juta rupiah.

Setelah buron beberapa hari, pelaku dibekuk Satreskrim Polres Sleman. Kini, pelaku beserta satu unit motor diamankan di Mapolres Sleman guna dilakukan penyidikan lebih lanjut.

“Kami amankan pelaku beserta barang bukti di rumahnya. Saat ditangkap, pelaku mengakui perbuatannya,” kata Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Anggaito Hadi Prabowo, Senin (11/2).

Dia menjelaskan, perbuatan pelaku dilakukan dari November 2018 sampai Desember 2018. Modus yang digunakan yakni menjual sepeda motor, namun hasil penjualannya tidak disetorkan kepada diler.

Kuat dugaan, ada sekitar 13 konsumen yang tertipu. Dari jumlah itu, baru empat yang diserahkan. Motor tersebut tidak dilengkapi surat-surat kendaraan alias motor bodong. Transaksi fiktif, meski dilakukan di kantor.

“Saat melakukan transaksi dengan konsumen, pelaku memberikan kuitansi palsu yang ditulis tangan. Padahal kuitansi yang asli kan di-print nama dilernya. Pelaku berdalih, kuitansi hanya sementara dan akan diganti,” kata Anggaito.

Aksi pelaku terendus pihak diler setelah satu per satu konsumen mulai menagih motor ke diler. Dari situ, baru diketahui jika tidak ada laporan transaksi.
Pihak diler lantas melaporkan ke polisi. “Jadi konsumen sudah setor uang secara cash namun barang tak dikirim,” kata Anggaito.

Selain mengamankan pelaku, petugas menyita barang bukti berupa sepeda motor, kuitansi tanda pembelian, dan bukti pembelian motor. “Pengakuan pelaku, uang itu untuk bayar utang,” ungkap Anggaito.

Akibat perbuatan tersebut, pelaku dijerat Pasal 374 dan 373 KUHP tentang penggelapan. Ancaman hukuman lima tahun penjara.

Aalah seorang korban, Andreas Sigit, 38, mendesak pihak diler bertanggung jawab. Dia telah menyetorkan Rp 27 juta kepada pelaku untuk membeli Yamaha N-Max.

Namun hingga kini, motor itu tak kunjung dia terima. “Transaksinya November 2018,” kata Sigit.

Dari penuturan Sigit, dia curiga karena disodori kuitansi dengan tulisan tangan. “Namun pelaku menjanjikan jika kuitansi itu bersifat sementara,” kata Andreas.
Dia telah berusaha menanyakan kepada pihak diler untuk memdapatkan kepastian. “Saya sudah minta pertanggungjawaban dari pihak Yamaha, tapi sampai saat ini belum ada kepastian,” kata Andreas. (har/iwa/riz)