Manusia senantiasa mengalami proses tumbuh-kembang dan perubahan. Seiring proses itu, mereka berhak menunjukkan jati diri dengan berbagai cara sesuai yang diinginkannya. Jadi wajar jika tingkah laku manusia terus berubah seiring fase hidupnya.

Tingkah laku berhubungan dengan cara pikir atau sudut pandang manusia dalam menghadapi dan memperlakukan sesuatu. Perubahan tingkah laku ini juga merupakan hasil pengaruh situasi sosial, termasuk di dalamnya adalah media.

Seorang pemerhati remaja dari Inggris, Allisa Quart menyatakan, pada abad ke-21 media memiliki peran penting dalam membentuk dunia remaja. Dia mengemukakan dunia remaja bukanlah dunia yang menunjukkan bahwa para remaja dikenal melalui kebebasan dan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Namun justru karena mereka memiliki gairah untuk menjerumuskan dirinya.

Kondisi ini terjadi karena para produsen dengan sengaja menciptakan ruang-ruang pasar bagi para remaja sehingga yang terjadi saat ini adalah sasaran pemasaran terbesar bagi sebuah produk adalah remaja.

Jika remaja sebagai konsumen terbanyak, seperti yang dikemukakan Sapardi Djoko Damono, tuduhan bahwa remaja adalah kelas bawahan seakan menjadi dibenarkan. Sebab kelas yang memiliki anggota paling banyak adalah kelas bawahan.

Kondisi ini dituduhkan oleh orang-orang yang menyetujui garis batas antara high culture ‘kebudayaan adiluhung’ (sedikit peminatnya) dan populer culture ’kebudayaan populer’ (banyak peminatnya). Dalam dunia sastra, kita juga mengenal istilah sastra adiluhung —yang kemudian juga sering dilabeli sebagai karya sastra kanon— dan sastra populer.

Karya sastra adiluhung dianggap sebagai karya sastra yang memiliki ideologi, mampu melampaui zamannya dan memiliki mutu tinggi. Ini berlawanan dengan karya sastra populer yang dianggap hadir untuk mengikuti selera pasar atau pembaca, tidak dapat bertahan lama, dan bermutu rendah.

Salah satu jenis karya sastra yang digolongkan sebagai sastra popular adalah sastra remaja. Kata ‘remaja’ yang berdasarkan fase hidup merupakan kondisi manusia yang masih mencari jati diri, sehingga cenderung labil. Hal inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan sastra remaja dianggap memiliki mutu rendah.

Jika dicermati, kata ‘remaja merujuk pada usia, kata ‘populer’ merujuk pada banyaknya penikmat (pembaca), kata ‘adiluhung’ merujuk pada kualitas suatu karya, dan kata ‘kanon’ merujuk pada masa sebuah karya dapat bertahan. Keempat kata tersebut sering kali dibanding-bandingkan.

Apakah keempat kata itu bisa kita bandingkan secara objektif jika sudut pandang pembandingnya berbeda-beda? Apakah sastra populer merupakan lawan dari sastra adiluhung, sedangkan tolok ukur untuk memberikan label pada keduanya berbeda?

Bagaimana dengan kasus karya sastra yang juga dianggap adiluhung tetapi memiliki banyak pembaca, bukankah karya tersebut juga menjadi karya populer? Misalnya saja Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang mungkin tanpa membaca novelnya saja banyak yang sudah merasa tahu alur ceritanya.

Bukankah karya ini selain bertahan sepanjang masa juga populer? Lantas apakah karya ini juga dianggap tidak bermutu? Lebih lagi pada era teknologi yang semakin canggih, berbagai ruang untuk mempublikasikan karya semakin beragam sehingga masyarakat semakin mudah mengakses dan karya semakin popular.

Bagaimana dengan fenomena kemunculan wattpad, figment, fiction press, penana, storial, dan webtoon yang dapat memberi ruang untuk memuat ribuan karya? Bahkan beberapa karya yang memiliki banyak pembaca akhirnya dibukukan dan menjadi buku bacaan remaja yang laris, seperti karya Bayu Permana berjudul My Posesive Bad Boy yang digolongkan sebagai teenlit.

Melihat fenomena ini sastra remaja menjadi menarik diperbincangkan. Hanya saja apakah kita memiliki kesamaan cara pandang untuk memahami sastra remaja? Kata “remaja” apakah dipahami sebagai pembaca, penulis, atau bahan cerita?

Jika remaja dipahami sebagai pembaca, artinya karya sastra remaja memang ditujukan untuk dibaca oleh pembaca remaja yang berusia belasan tahun. Jika remaja dipahami sebagai penulisnya, maka karya ini ditulis oleh remaja yang juga berusia belasan tahun.

Sedangkan jika remaja dipahami sebagai bahan cerita, maka cerita dalam karya sastra tersebut adalah cerita seputar kehidupan remaja. Oleh karena itu, memahami sastra remaja memang perlu kajian lebih lanjut supaya kita dapat melihat dengan kacamata objektif.

Yang perlu disyukuri adalah dengan sastra remaja, setidaknya masih ada harapan adanya kreativitas berkarya. Baik remaja sebagai pembaca maupun penulis, maka budaya literasi bisa terus berlangsung. Sedangkan pembaca sebagai bahan cerita akan memperkaya wawasan terhadap psikologi maupun sosial dunia remaja. (*/laz)

Fitri Merawati S.Pd, MA
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jogjakarta