SLEMAN – Status Gunung Merapi di Sleman memang masih pada level waspada (level II). Namun beberapa hari yang lalu, Merapi mengeluarkan luncuran awan panas sejauh dua kilometer ke arah Sungai Gendol.

Kondisi tersebut tak lantas membuat aktivitas penambangan di Sungai Gendol berhenti. Justru, penambangan seakan tidak terpengaruh sedikitpun.

Seperti di lokasi penambangan milik CV Lestari di Dusun Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan. Lokasi penambangan hanya berjarak sekitar empat kilometer dari puncak Merapi.

Bisa saja luncuran awan panas itu melebihi jarak aman rekomendasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ. Yakni sejauh tiga kilometer dari puncak.

Salah seorang penambang pasir, Gudel, 36, warga Dusun Manggong, menjelaskan jika dia sebenarnya agak khawatir dengan kondisi Merapi saat ini. “Tapi mau bagaimana lagi? Nanti kalau nggak nyari pasir, orang rumah nggak makan,” ujar Gudel.

Memang, sebagian besar warga di lereng Merapi menggantungkan hidupnya dari hasil tambang pasir. Namun, hasil dan risiko yang didapat tidak sebanding.

“Hasilnya hanya cukup untuk beberapa hari. Kalau tidak nambang malah tidak dapat apa-apa,” kata Gudel yang mengaku menjadi tulang punggung utama keluarganya.

Senada dengan Gudel, salah seorang sopir truk, Eko Wahyu, 21, warga Karanganyar, Klaten juga mengaku khawatir. “Tapi mau bagaimana lagi? Pasir yang bagus hanya di sini (Merapi),” kata Eko.

Kendati baru kali pertama mengambil pasir di Sungai Gendol, dia tahu bagaimana bahayanya. Apalagi Merapi kian intens mengeluarkan guguran lava. Ditambah saat ini curah hujan tinggi. Potensi banjir lahar dingin tidak bisa diabaikan.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Joko Lelono menjelaskan, pihaknya telah memasang early warning system (EWS) sebanyak 20 unit. “Jaraknya setiap dua kilometer,” kata Joko.

Namun, Joko mengingatkan untuk bisa membunyikan EWS tidak bisa sembarangan. Ada prosedurnya. “Seperti banjir lahar hujan, itu tidak bisa kalau puncak hujan langsung dibunyikan, dilihat dulu potensinya sampai bawah tidak,” kata Joko.

Pihaknya mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di Sungai Gendol berhati-hati ketika terjadi hujan. “Sebab bajir lahar itu potensinya tetap ada,” pesannya. (har/iwa/zl)