Kebutuhan keahlian tangan para pandai besi mulai ditinggalkan. Dulunya mereka begitu dicari oleh masyarakat. Tapi saat ini mereka menolak menyerah dan tetap bertahan. Bagaimana nasib mereka sekarang ?

IWAN NURWANTO, BANTUL

Suara pukulan besi terdengar dari kejauhan. Aroma belerang juga tercium tajam di daerah Kalibayem Kasihan Bantul. Besi merah membara pun masih tetap dipukul dengan palu secara bergantian. Bersamaan dengan itu terlihat pula percikan api menyirat di antara kedua lengan para pandai besi.

Melihat lebih dekat, seorang pria sedang menengok liang tungku yang terbuat dari tumpukan batu. Ternyata besi panjang berwarna merah terbakar ini yang sedang ditunggu, ditariklah dengan catut kemudian ditempatkan diatas paron. Lalu selanjutnya “dihajar” tanpa ampun dengan menggunakan palu.

Setelah beberapa kali pukulan, besi panjang tersebut kemudian berbentuk seperti kapak berukuran sedang, yang biasa dugunakan untuk membelah dahan.”Kapak ini pesanan orang Wates, baru masuk,” kata Suyanto, sang pandai besi.

Dihargai Rp 50 ribu, Suyanto dapat menyelesaikan pesanan kapak tajam beserta gagangnya itu selama dua hari. Dia menceritakan untuk satu kapak kecil, dulunya dia hanya berjanji kepada pelanggannya dapat terselesaikan dalam waktu seminggu.

Kenapa dulu lebih lama? Suyanto menjawab, karena dulu saat masyarakat masih banyak yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Sehingga kebutuhan benda tajam dan keras hasil tangannya masih banyak dicari. “Bahkan dalam seharinya pesanan lima pesanan arit maupun cangkul bisa masuk ke bengkel sehingga harus antri,” kenangnya.

Berbeda dengan sekarang. Dalam sehari saja hanya ada pesananan satu dua barang. Itu pun berupa kapak maupun pisau. Atau hanya meminta untuk jasa pengasahan agar tajam kembali. Dan hanya orang itu-itu saja, yang merupakan pelanggan setianya.”Ramai pun biasanya mendekati Idul Adha,” ungkapnya.

Perkembangan teknologi, dinilai sebagai penyebab besi murni ini kemudian jarang digunakan. Suyanto menceritakan, pabrik-pabrik dari luar negeri sekarang sudah banyak yang bisa memproduksi arit dengan bahan campuran, sehingga harganya lebih murah. “Pasar hewan, klitikan sekarang pun sudah banyak yang jual arit bikinan Tiongkok,” ujarnya.

Akibat masuknya barang-barang baru tersebut, berakibat pula dengan sepinya pesanan di bengkelnya. Menurut dia para petani saat ini lebih nyaman memakai barang yang kebanyakan menggunakan gagang karet maupun plastik itu.Dia mengklaim barang yang dibuat dengan besi murni, dijamin punya kekuatan yang lebih besar dan dirasa lebih awet. Dan besi campuan dinilai akan sering patah serta ketul.

Namun hanya segelintir orang yang percaya dengan hal tersebut. Yaitu para langganannya. Walau begitu, Suyanto tetap yakin usaha yang diwariskan kakek dan ayahnya ini tetap mampu bertahan. Toh sampai sekarang dia masih mampu menghidupi keluarga, dan membayar para pekerja yang masih betah menjaga tungku belerang menyala. “Nanti juga akan kembali percaya dengan yang dipakai oleh para pendahulunya,” ujarnya mantap. (cr5/pra/tif)