SLEMAN – Warga Desa Selomartani, Kalasan dikagetkan video di instagram, twitter atau whatsapp. Video berdurasi sekitar satu menit. Menayangkan adanya lubang di tengah Kali Kuning. Mengakibatkan air tersedot ke dalam tanah.

Pantauan Radar Jogja, lubang tersebut berukuran 4×3 meter. Kedalaman dua meter. Terletak di antara jembatan dan Bendungan Sambirejo.

“Diduga, terbentuknya lubang itu karena faktor cuaca ekstrem. Terjadi hujan dan ada aliran air deras yang membawa material pasir. Karena pintu air tertutup, akhirnya air mencari jalan dan menggerus dasar sungai,” kata Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Achmad Subhan di lokasi kejadian, Minggu (10/2).

Dia segera mengerahkan dua unit backhoe untuk melakukan normalisasi sungai. Selain itu, juga membuka pintu air agar aliran air lancar.

“Ini alirannya kami buat agar lancar dulu agar tidak masuk ke lubang, hari Senin (11/2) lubang akan kami tutup permanen,” kata Subhan.

Dia memastikan kejadian itu tidak memberikan dampak signifikan terhadap konstruksi jembatan dan bendungan. “Makanya akan segera kami tangani agar dampaknya tidak meluas,” tegas Subhan.

Selain mengerahkan dua alat berat, pihaknya juga menyiapkan bronjong sebanyak 80 buah. Selain itu, juga disiapkan batu untuk menutup lubang yang menganga.

“Kalau tidak segera ditangani dan fungsi bendungan dikembalikan, dikhawatirkan daerah bawah akan terkena dampak,” kata Subhan.

Terkait pintu air yang tidak dibuka saat hujan, Subhan menjelaskan, ada prosedurnya. Jika hujan dan potensi banjir besar, pintu air harus ditutup. Jika dibuka, material akan menyumbat dan pintu air tidak bisa ditutup kembali.

Kepala Dusun Sambirejo, Giyanto mengatakan, kejadian tersebut terjadi Jumat siang (8/2). Kejadian tersebut bukanlah yang pertama. “Dulu pernah dua kali kejadian (amblas), tapi ditangani dengan gotong royong warga,” kata Giyanto.

Dia menjelaskan, sebelumnya warga telah menutup lubang itu dengan karung pasir, terpal dan bambu. Namun pada kejadian Jumat siang itu, tanggul buatan warga tidak bisa menahan derasnya air.

“Karena pintu air tidak bisa dibuka selama 16 tahun karena rusak. Tanggul buatan tidak bisa menahan, akhirnya jebol lagi,” kata Giyanto. (har/iwa/zl)