DI ERA globalisasi saat ini, perkembangan telekomunikasi dan informatika sudah begitu pesat. Hal tersebut berdampak pada semakin ramainya internet.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dengan 95 persennya merupakan pengguna internet untuk media sosial (medsos).

Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia hingga saat ini belum bisa menggunakan medsos dengan sehat. Belakangan ini, medsos banjir dengan narasi-narasi ujaran kebencian. Narasi-narasi berupa ejekan, hujatan, makian, dan buli-membuli masih menjadi hidangan sehari-hari. Medsos yang seharusnya menguatkan kehidupan social justru malah sering merenggangkan.

Jika dilihat dari sudut pandang Islam, tentu ujaran kebencian adalah kategori perbuatan tercela (akhlak madzmumah). Karena ujaran kebencian adalah ancaman serius  dan mengganggu tatanan kehidupan social masyarakat. Sehingga, perlunya tindakan yang sungguh-sungguh (jihad) dari setiap orang untuk melawannya.

Memaknai Jihad

Secara istilah, jihad berarti berjuang bersungguh-sungguh di jalan Allah dan sesuai dengan syariat Islam. Tujuannya sendiri adalah untuk menegakkan dan menjaga agama Allah (Islam). Dengan jihad berarti seorang muslim telah bertanggung jawab terhadap agamanya. Sehingga akan terwujudlah esensi dariajaran agama Islam itu sendiri, yaitu rahmatanlil ‘alamin.

Belakangan ini, medsos sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Sayangnya, medsos malah dibanjiri narasi-narasi ujaran kebencian. Sehingga, perlunya setiap orang berjihad di media social untuk melawan narasi-narasi itu. Dengan begitu, dapat dikatakan mereka telah berkontribusi dalam menjaga kehidupan social ini, yaitu dengan berjihad di jalan damai.

Jihad di JalanDamai

Jihad dijalan damai adalah tindakan bersungguh-sungguh untukmelawan narasi-narasi ujaran kebencian. Jihad untuk menegakan dan menjaga kehidupan social yang damai. Tentunya damai yang tidak hanya menyangkut keadaan lahir, tetapi juga batin.

Dengan keadaan lahir dan batin yang damai, cita-cita bangsa ini pun juga akan dapat segera terwujud.

Jihad di jalan damai bisa dimulai dengan dirisen diri.Nabi Muhammad SAW juga mengajarka bahwa jihad yang paling utama adalah melawan hawa nafsu diri sendiri. Karena melawan nafsu diri sendiri lebih berat dari pada melawan musuh di depan mata. Dalam konteks ini, nafsu yang dimaksud adalah menyebarkan narasi ujaran kebencian.

Sehingga, sudah seharusnya disetiap waktu, disetiap hembusan nafas, mulai kita gunakan untuk berjihad melawan nafsu tersebut. Kita harus membiasakan diri menahannya, menahan untuk tidak menyebarkan narasi-narasi ujaran kebencian di medsos.

Pendek kata, di era globalisasisaatini yang begitu pesat, sudahs eharusnya setiap orang untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam menjaga dirinya. Sehingga kehidupan social pun juga akan terjaga (damai). Denganbegitu, kehidupan pun akan berjalan dengan bahagia, seperti yang dikatakan Al Ghazali, bahwa “Kebahagiaan itu terletak pada kemenangan melawan hawa nafsu”. Wallahua’lam. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga, Ketua Pelaksana Laboratorium Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial (LP3S) UIN Sunan Kalijaga, Pemerhati MediaSosial, dan Santri di Pondok Literasi Baitul Kilmah.