Mengabarkan informasi seputar Gunung Merapi sudah menjadi tanggung jawab moral bagi Totok Hartanto. Tawaran Rp 100 Juta untuk akun yang dia kelola pun ditolaknya.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

”Dari kemarin banyak media yang menulis tentangku,” ungkap wedhus gembel. Kicauan itu menghiasi linimasa Twitter Jumat pagi (8/2). Sehari setelah Gunung Merapi menyemburkan guguran lava dan luncuran awan panas (wedhus gembel) hingga dua kilometer Kamis (7/2) petang.

Itulah salah satu kicauan akun @merapi_news. Isinya memang beragam informasi seputar aktivitas Gunung Merapi. Persis seperti nama akunnya. Namun, akun dengan follower 61.200 ini terkadang juga men-tweet informasi lain. Yang pasti, gaya luwes kicauan akun ini kerap membuat pengikutnya tergelitik. Bahkan, terkekeh.

”Mengelola akun media sosial memang harus bijak,” ucap Totok Hartanto, sosok di balik akun @merapi_news.

Rasa penasaran Radar Jogja terhadap siapa sosok di balik akun itu terjawab setelah pria 36 tahun tersebut merespons direct message. Totok, sapaan Totok Hartanto, Jumat sore (8/2) memilih Hunian Tetap Dongkelsari, Wukirsari, Cangkringan, sebagai lokasi pertemuan.

Dalam obrolan yang penuh dengan keakraban itu, Totok bercerita banyak soal seluk-beluk akun @merapi_news yang dikelolanya. Termasuk latar belakang yang mendorongnya membuat akun. Ternyata, ide membuat akun itu salah satunya sebagai kritik. Terutama terhadap akun pelat merah.

Sebab, akun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman yang notabene sebagai representasi pemerintah jarang mengunggah informasi seputar aktivitas Merapi terkini.

”Beruntung BPPTKG masih sering update untuk kabar Merapi,” ucapnya.

Kehadiran @merapi_news juga sebagai respons terhadap masifnya peredaran informasi. Di era tsunami informasi, tidak sulit untuk mendapatkan berbagai berita. Cukup bermodal smartphone, beragam informasi bisa diakses.

Dengan mudah dan cepat. Tak terkecuali informasi bencana. Namun, kebenaran informasi itu belum sepenuhnya terverifikasi. Bahkan, jamak di antaranya hoaks.

”Prinsip saya bukan hanya cepat, tapi juga akurat, apalagi yang di-share adalah info bencana, dalam hal ini Merapi,” ujarnya.

Tampilan akun twitter @merapi_news yang dikelola Totok.

Saking hati-hatinya, Totok tak sembarangan men-tweet soal perkembangan Merapi. Meski, dia mengetahui kondisi yang paling gres. Kicauan @merapi_news selalu setelah BPPTKG memberikan keterangan resmi.

”Saya pernah menerima pesan minta mengabarkan kondisi Merapi, tapi saya tahan dulu, karena saya juga tidak mungkin mendahului info BPPTKG,” kenangnya.

Sebab, sembarangan men-tweet, apalagi jika sampai tidak tepat sasaran bisa berakibat bullying. Seperti saat @akun_merapi berkicau tentang kecelakaan jip Merapi. Meski bertujuan baik, kicauan itu berujung bullying dari anggota komunitas jip.

”Tujuannya baik agar mereka berbenah, tapi justru malah diserang, dan diminta untuk menghapus,” tutur Totok menyebut salah satu risiko admin akun.

Namun, pria yang menjabat sebagai kepala Dusun Srodokan Gungan, Wukirsari, Cangkringan, itu tetap getol mengajak follower-nya santun bermedia sosial. Tanpa ada bullying.

Bahkan, dia punya gaya komunikasi khas dengan para follower-nya: santai. Itu untuk menimbulkan kesan akrab antara admin dan follower.

Berkat keuletan, akun @merapi-news yang dirintis Totok sejak 2011 berkembang pesat. Follower-nya mencapai puluhan ribu. Juga menjadi salah satu akun rujukan. Seolah menjadi hukum alam, akun ini pun pernah ditawar. Ingin dibeli seharga Rp 100 juta. Totok mengaku saat itu sempat tergiur.

”Kapan lagi dapat Rp 100 juta. Tapi, karena takut disalahgunakan, jadi saya tolak,” kenangnya dengan nada tanpa penyesalan.

Bagi dia, mengabarkan dinamika masyarakat dan keadaan terkini Merapi menjadi tanggung jawab moral. Sebab, berkaca dari kejadian 2010 yang membuat rumahnya hancur, dia memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada masyarakat seputar kondisi Merapi.

”Prinsipnya sebenarnya bukan hanya Merapi, tapi bencana vulkanologi lain,” bebernya.

Totok menceritakan, awalnya tidak ada yang tahu siapa di balik akun tersebut. Termasuk ayahnya sekalipun. ”Pernah bapak saya itu mengirim pesan, dia tidak tahu kalau yang mengelola (akun) anaknya,” ucapnya terkekeh.

Kendala dalam pengelolaan akun tidak banyak dia temui. Membagi waktu antara pekerjaanya di pemerintahan dan mengelola akun juga tidak ada masalah. Namun banyak yang menyangka jika dia setiap saat nge-tweet.
”Padahal pakai schedule tweet, jadi bikin konten sebanyak-banyaknya nanti otomatis mem-posting di waktu tertentu,” ujarnya. (zam/riz)