DUNIA sepak bola tanah air kembali dirundung duka. Kekerasan antar suporter sepak bola kembali harus mengorbankan nyawa. Kali ini Muhammad Asadulloh Al-Khoiri (20) harus meregang nyawa usai menonton laga PSS Sleman versus Persis Solo di Stadion Maguwoharjo Sleman pada Sabtu (19/1).

Tragedi ini tentu menambah daftar panjang korban kekerasan sepak bola. Khusus di Jogja ini merupakan korban kelima semenjak 2012 silam. Bahkan kalau kita tengok lebih jauh lagi catatan Save Our Soccer (SOS), lembaga pemerhati sepak bola nasional, terhitung sejak 1995, paling tidak ada 56 orang yang meninggal dunia akibat bentrokan antar sesama suporter sepak bola.

Kita harus paham bahwa suporter sepak bola ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Dimana ada sepak bola, bisa dipastikan di situ ada suporter. Suporter bisa dibilang sebagai pemain ke-12 yang keberadaannya dapat menimbulkan efek positif dan juga negatif. Suporter sepak bola mampu menyatukan antar-individu ke dalam satu komunitas yang solid. Namun, di sisi lain tidak jarang sikap fanatik yang diekspresikan secara berlebihan, malah justru bisa berdampak kekerasan dengan menyerang komunitas suporter lain.

Berbagai rangkaian beristiwa naas ini tentunya harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, aparat, dan pengelola sepak bola baik di tingkat daerah maupun nasional. Pemeriksaan ketat oleh aparat ternyata belum cukup mampu membendung dan meredam kekerasan antar-suporter. Sudah saatnya manajemen suporter sepak bola dibenahi, agar peristiwa kekerasan suporter tidak terulang.

Pembentukan divisi khusus dalam Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang bertugas melakukan pendekatan terhadap suporter dan komunitas sepak bola patut kita apresiasi dan sambut positif. Namun meskipun begitu, perlu ada payung hukum yang tegas untuk menindak pelaku kekerasan suporter ini. Mengingat selama ini seolah ada pembiaran hukum, tanpa ada sanksi hukum yang tegas terhadap oknum yang terlibat dalam kerusuhan antar-suporter.

Sanksi yang tegas perlu diberlakukan baik terhadap oknum perseorangan maupun klub sepak bola yang terlibat. Hal ini dilakukan agar klub-klub sepakbola yang terus melakukan tindak kekerasan dan kerusuhan juga harus sadar diri untuk melakukan langkah kongret melalui manajemen dan edukasi suporternya. Adanya kartu anggota resmi suporter, pembinaan rutin, dan edukasi tata tertib suporter perlu dilakukan. Pengelolaan suporter sepak bola semacam ini perlu dipikirkan serius oleh pihak manajemen klub sepak bola.

Pendidikan karakter suporter juga perlu dilakukan baik dilakukan oleh manajemen klub secara khusus, maupun PSSI pada umumnya. Mengingat hal ini merupakan kunci kesadaran untuk tidak belaku anarkhis. Jika karakter suporter sudah terbentuk baik, maka tidak akan mungkin kekerasan antar-suporter terjadi.

Sudah saatnya peristiwa kekerasan antar suporter ini menjadi pelajaran kita bersama untuk mengevaluasi manajemennya. Pendidikan dan pelatihan tak hanya ditujukan kepada pemain ataupun pihak manajemen sepak bola saja, akan tetapi suporter juga. Dengan itu semua, harapannya sepak bola Indonesia semakin maju, ditunjukkan salah satunaya dengan perilaku suporter yang senantiasa menjunjung sportivitas, persaudaraan, anti-kekerasan, persatuan, dan perdamaian. (ila)

*Penulis adalah Peneliti pada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan UIN Sunan Kalijaga.