JOGJA – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat secara terbuka mengajak media massa agar menggunakan kembali nama Sultan Hamengku Buwono X. Ajakan itu disampaikan menjelang peringatan kenaikan takhta sultan ke-30 yang jatuh pada 7 Maret mendatang.

”Sebaiknya media (dalam penulisannya, Red) memakai nama Hamengku Buwono X,” ajak Penghageng Kawedanan Tandha Yekti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Hayu di Balai Raos, Jumat (8/2).

Pernyataan Hayu itu disampaikan menanggapi penggunaan dua nama sultan untuk acara-acara keraton. Misalnya saat peringatan Hadeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ke-272 di Bangsal Pagelaran pada Selasa (5/2) lalu.

Dalam acara itu, abdi dalem Kanca Kaji atau ulama keraton menyebutkan nama dan gelar sultan adalah Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) ingkang jumeneng Kasepuluh Senopati ing Ngalaga Suryaning Mataram Langeng ing Bawana Langgeng.

Informasi ini bisa diakses di Youtube yang diunggah oleh Kraton Jogja berjudul Peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ke-272. Demikian pula di situs resmi Keraton Jogja www.kratonjogja.id yang dikelola Kawedanan Tandha Yekti tertulis sultan yang bertakhta adalah HB Ka 10.

Sebaliknya, saat peringatan 30 tahun kenaikan takhta nama sultan yang ditulis bukan HB Ka 10. Keraton menyebut peringatan Hajad Dalem 30 Tahun Tinggalan Dalem Jumeneng Dalem Sri Sultan HB X. Ini sesuai dengan undangan konferensi pers yang ditandatangani Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura GKR Condrokirono tertanggal 3 Februari 2019.

”Pada tanggal 7 Maret 2019, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat akan memperingati 30 Tahun Tinggalan Jumeneng Dalem atau Peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X, menurut Kalender Masehi,” tulis Condrokirono.

Sekadar mengingatkan, Condrokirono pada 4 Mei 2015 pernah menerbitkan undhang gumantosing asma dalem. Semacam keputusan tentang pergantian nama raja yang bertakhta.

Berikut dengan gelar yang disandangnya. Yakni dari Sultan Hamengku Buwono X menjadi Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Undhang dengan nomor 080/KHPP/ rejep V/EHE.1948.2015 dikeluarkan sebagai tindak lanjut sabdaraja pada 30 April 2015.

Menanggapi dualisme nama sultan tersebut, Hayu menegaskan, penggunaan nama HB Ka 10 lebih untuk acara yang bersifat internal. Parameternya internal, yaitu acaranya dihadiri Sultan dan ditandai dengan adanya kandha.
”Kandha itu berupa pementasan beksan (tari),” jelas putri keempat Sultan HB X ini.

Didampingi GKR Bendara, adiknya, Hayu mengatakan, selama ini ulang tahun kenaikan takhta diperingati berdasarkan Kalender Jawa. Ditandai upacara sugengan (selamatan) dan dilanjutkan dengan labuhan.

”Tahun ini keraton menggelar berdasarkan tahun Masehi. Peringatan diadakan sejak 5 Maret hingga 7 April 2018,” jelas putri raja yang terlahir dengan nama Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurabra Juwita ini.

Kegiatan dimulai dengan simposium internasional dengan tema besar Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta. Dalam catatan sejarah, terang istri KPH Notonegoro ini, Keraton Jogja kehilangan banyak naskah berisi berbagai ajaran leluhur sejak peristiwa Geger Sepehi 1812. Geger Sepehi merupakan peristiwa saat pasukan Inggris di bawah Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles menyerbu Keraton Jogja.

Sultan HB II yang saat itu bertakhta dipaksa lengser. HB II kemudian dibuang ke Penang, Malaysia. Putra mahkota, Pangeran Suraja, ayah Pangeran Diponegoro, kemudian diangkat Raffles menjadi HB III.

Bersamaan dengan itu, Pangeran Notokusumo, adik lain ibu dari HB II juga dilantik menjadi Pangeran Paku Alam, lepas dari kasultanan. Notokusumo dan HB III dinilai membantu Raffles dalam penyerbuan ke keraton.
Selain mendongkel HB II, Raffles membawa ribuan naskah babad dan serat ke Inggris. Kini setelah 207 tahun berada di Inggris, beragam naskah itu diserahkan kembali ke keraton.

”Diserahkan dalam bentuk digital,” katanya.

Simposium berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo pada 5-6 Maret. Acara dibuka dengan Beksan Jebeng karya HB I. Dilanjutkan pidato pembukaan oleh HB X. Selama dua hari, diskusi dikemas dalam empat topik. Yakni, sejarah, sastra, seni, dan sosial budaya.

Pembicaranya, antara lain, sejarawan dan penulis buku Pangeran Diponegoro, Peter Carey, Annabel Teh Gallop (kurator, perwakilan dari British Library), Roger Vetter (peneliti Gamelan Jawa dari Amerika Serikat), serta sejumlah akademisi dari berbagai universitas di Indonesia.

GKR Bendara menambahkan, puncak acara berupa pameran naskah Keraton Jogja yang diadakan di Bangsal Pagelaran. Pameran berlangsung sebulan penuh, dari 7 Maret-7 April mendatang.

Naskah-naskah fisik yang dipamerkan merupakan koleksi warisan HB V. Antara lain babad, serat, dan cathetan warni-warni dari perpustakaan keraton KHP Widyabudaya. Sedangkan teks-teks bedhaya, srimpi, pethilan beksan serta cathetan gendhing dari koleksi KHP Kridhamardawa.

Berbagai koleksi dari Bebadan Museum Keraton Jogja ikut dipamerkan guna mendukung visualisasi naskah. Selain pameran naskah berbentuk fisik, beberapa naskah digital dari British Library akan ditampilkan.

”Semua kegiatan itu diselenggarakan sebagai bukti selama ini kami tidak berdiam diri,” tegas putri bungsu sultan yang punya nama kecil GRAj Nurastuti Wijareni ini.

Lebih jauh dikatakan, ketertarikan masyarakat terhadap budaya dan sejarah semakin tinggi. Itu perlu diapresiasi. Lewat ruang diskusi, diharapkan masyarakat semakin sadar merawat identitas yang diwariskan oleh para para leluhur. Semangat yang sama telah menginisiasi kegiatan digitalisasi koleksi budaya dan pusaka milik Keraton Jogja.

”Proses ini akan dilakukan secara berkelanjutan hingga kemudian hari,” kata istri KPH Yudhonegoro ini. (kus/cr9/zam/riz)