SLEMAN – Upaya meningkatkan prestasi para atlet wushu di DIJ tidak berjalan mulus. Kendala keterbatasan peralatan dan waktu latihan menjadi kendalanya.

Pelatih wushu dari Sasana Wushu Sinduadi Kristian Nugroho menjelaskan, saat ini pengadaan peralatan latihan, khususnya senjata untuk latihan sulit. Karena peralatan ini idak diproduksi di dalam negeri. Mereka harus impor. Selain mahal, senjata sering tertahan di bea cukai.

“Perizinannya cukup rumit,” kata Nugroho, Rabu (7/2).

Selain karena harus impor, harga senjata yang mahal disebabkan kualitas bahan yang standar untuk pertandingan. “Kalau dulu toya dibuat dari kayu lilin, sekarang dibuat dari fiber,” jelasnya.

Senjata menjadi alat yang penting untuk atlet karena berhubungan dengan kesempurnaan gerakan. Dengan senjata itu atlet dapat memperagakan secara maksimal.”Selain itu, risiko kerusakan juga minim,” ungkapnya.

Selain mengenai senjata, keterbatasan waktu juga menjadi kendala. Para atlet sebagian besar kalau pagi mereka sekolah. “Jadi hanya bisa mengadakan latihan saat malam,” bebernya.

Saat ini latihan telah memasuki tahap persiapan khusus. Maret mendatang apara atlet mulai masuk pra-kompetisi. Pra kompetisi ini akan dilakukan dengan mengadakan simulasi.

Padahal, cabang olahraga ini tidak kalah berprestasi jika dibanding yang lain. Kamilia Lituhayu misalnya, yang pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu meraih emas. Sedangkan pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2017, Kamilia membawa pulang medali perak. (cr10/din/riz)