JOGJA – Hukuman drop out (DO) bagi pelajar yang terlibat kekerasan geng sekolah di Kota Jogja tidak mempan. Anggota geng sekolah ternyata tidak harus pelajar sekolah setempat. Itu berdasar pengungkapan kasus penganiayaan di Jalan Urip Sumoharjo, Jumat dini hari (1/2).

Kedua tersangka atas nama Aryo, 19 dan Yoga, 18, dibekuk di kediamannya masing-masing Gendeng Gondokusuman Baciro Jogja, Rabu dini hari (6/2).

Kapolsek Gondokusuman Kompol Bonafisius Slamet menuturkan awal mula kejadian saat geng sekolah tersangka STEPIRO atau STM Piri Loro berniat tawuran dengan geng pelajar lainnya Morenza. Kedua kelompok ini merencanakan tawuran di kawasan Ringroad Utara Condongcatur Depok Sleman.

“Korban atas nama insial AK, 18, melarikan diri ke arah jalan Affandi dan dikejar oleh kedua pelaku. Setibanya di kantor BPJS Ketenagakerjaan, korban jatuh dari motornya. Saat akan kabur memanjat tembok kantor itulah pelaku membacokan clurit ke punggung korban,” jelasnya saat rilis tersangka di Mapolsek Gondokusuman, Kamis (7/2).

Masing-masing tersangka mengakui perbuataannya. Juga mengaku terlibat dalam geng pelajar tersebut. Tapi berdasarkan catatan administrasi, keduanya justru terdaftar sebagai siswa SMA Ma’arif Dagen Jogja.

Tersangka Aryo mengaku terlibat karena pernah sekolah di STM Piri 2. Hanya saja statusnya di sekolah tersebut siswa DO. Setelahnya dia pindah ke SMA Ma’arif Dagen Jogja. “Dulu pernah sekolah disana tapi sudah DO. Ikut karena terpanggil,” katanya.

Hal yang sama juga dilontarkan Yoga. Remaja usia 18 tahun ini justru tidak memiliki catatan sebagai siswa STM Piri 2. Warga Gendeng ini tercatat pernah bersekolah di SMKN 3 Jogja lalu pindah SMK 4 Jogja sebelum berlabuh ke SMA Ma’arif. “Ikut-ikutan saja, karena kenal dengan temen-temen Stepiro,” katanya singkat.

Dirreskrimum Polda DIJ Kombespol Hadi Utomo memastikan antara korban dan pelaku saling kenal. Terbukti dari bukti percakapan pesan media sosi; kedua kelompok geng pelajar. Sepakat bertemu satu lokasi dan melakukan tawuran.

Secara khusus Hadi menyoroti jenis senjata yang digunakan. Saat penggeledahan di rumah pelaku, polisi berhasil menemukan delapan jenis senjata tajam. Adapula empat buah gir yang dikaitkan pada sabuk bela diri.

“Para pelaku ini mencoba cari celah pasal. Gir yang dikaitkan sabuk itu tidak tergolong sebagai senjata tajam. Tapi tetap kami kenakan pasal penganiayaan, karena niatnya untuk menganiaya,” tegasnya.

Atas kejadian ini Hadi memerintaskan jajaran Reskrim bertindak total. Terlebih kedua pelaku sudah tergolong dewasa. Pasal yang dikenakan berlapis, berupa Pasal 170 KUHP Junto Pasal 351 tentang Penganiayaan. Adapula UU Darurat membawa senjata tajam.

“Ancaman hukuman untuk kedua tersangka hukuman kurungan maksimal sembilan tahun penjara. Penyidikan tetap berlanjut, terutama untuk melacak tersangka lainnya,” katanya. (dwi/pra/riz)