GUNUNGKIDUL – Pembangunan tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) di wilayah pesisir belum ada kejelasan. Sosialiasi pembebasan lahan sudah dilakukan. Warga terdampak sudah mengumpulkan KTP. Namun belum ada informasi lanjutan.

Camat Tanjungsari, Rachmadian mengatakan, warga Padukuhan Wonosobo, Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari mendukung pembangunan TPAS. Penduduk pun bersedia jika terkena pembebasan lahan.
“Namun kami masih menunggu perkembangan dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup),” kata Rachmadian, Kamis (7/2).

Dia mengakui, selama ini sosialisasi rencana pembebasan lahan sudah dilakukan. Pemilihan lokasi di Banjero karena letaknya strategis. Akses mudah.
“Lokasinya, dari Pantai Kodok ke utara. Di sana akan dibangun TPAS seluas sekitar lima hektare,” terangnya.

Sekretaris DLH Gunungkidul, Aris Suryanto mengaku sudah mengusulkan anggaran pembebasan lahan. Tetapi, untuk pembangunannya ada di tangan provinsi. Prosesnya masih berkutat pada penyelesaian dokumen dari konsultan.

“Kalau dokumen perencanaan pembangunan dari konsultan yang ditunjuk belum ada. Maka pembebasan lahan belum dapat dilakukan,” kata Aris.

Untuk anggaran pembebasan lahan sudah ada sejak 2018. Namun karena rencana eksekusi urung dilakukan, dananya digunakan untuk pembebasan lahan jalur alternatif Gading, Playen.

Kepala Dinas DLH Gunungkidul, Agus Priyanta menuturkan, penunjukan lokasi pembangunan di Dusun Wonosobo merupakan rekomendasi konsultan. Sebelum penunjukan, ada tiga opsi lokasi TPAS. Yakni Desa Banjero, Tanjungsari; Desa Monggol, Saptosari; dan Desa Tepus, Tepus.

“Dari tiga opsi tersebut, dipilih Dusun Wonosobo, Banjarejo. Karena berada di tengah-tengah. Juga untuk mengakomodir sampah-sampah dari objek wisata wilayah selatan Gunungkidul,” kata Priyanta. (gun/iwa/riz)