DEKADE terakhir ini -terutama empat tahun belakangan- bangsa Indonesia mengalami semacam turbulensi internal. Kondisi politik yang bergejolak, bahkan berlarut-larut membuat panas perbincangan rakyat dan pemikir sosial, mulai dari kelas berdasi hingga warung kopi. Hadirnya fenomena overload information yang memunculkan hoax, menyerempet ke persoalan suku, agama, ras, adat (SARA) menyebabkan rakyat resah. Kemajemukan tampak dipermasalahkan dan diseret ke pembicaraan sehari-hari. Bila ini berlangsung terus-menerus dalam waktu lama tak pelak semakin menguak ketakutan terjadinya konflik.

Kemajemukan dalam kerangka bangsa Indonesia yang telah sedemikian rupa dibuat oleh Tuhan. Sesungguhnya kita hidup dalam keberagamaan, maka kita harus bersatu dalam keberagaman (unity in diversity). Ini sesuai prinsip dasar Bhinneka Tunggal Ika, sebagai pilar bangsa kita. Istilah yang diambil dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, pujangga Majapahit ini pada konsepsinya berkomitmen untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baik secara geografis, secara politik, secara ekonomi dan tentu secara budaya.

Keberagaman sama sekali bukan hal tabu. Hal yang mesti ditekankan disini ialah tak selamanya persamaan itu mendatangkan kedamaian. Justru didalam keberagaman lebih mudah ditemukan kedamaian yang mutlak, yang lebih hakiki. Dimana manusia yang berbeda-berbeda, mulai dari agama, bahasa, warna kulit bisa hidup tentram dalam keberagaman. Maka, disinilah kita munculkan kosakata indahnya keberagaman.

Syarat untuk berlaku efektifnya kosakata ini ialah lewat pemahaman etik dan sikap keterbukaan berdasarkan tujuan yang satu: damai. Belajar untuk mengerti dan menjalankan bahwa setiap manusia adalah saudara bagi manusia lainnya. Bahwa setiap orang harus dipandang sebagai manusia, tanpa ada pengelompokan secara struktural, apalagi pengkastaan, yang mana ini sangat sentisif melahirkan perpecahan.

Perbedaan bukan sesuatu yang menepis, melainkan memperkaya kesatuan. Negara tidak boleh membedakan perlakuan terhadap warganya. Semua berhak menikmati hak sosial, hak ekonomi dan hak politiknya. Dalam wujudnya yang paling konkrit, prinsip kebersatuan dan persatuan itu juga kita materialisasikan dalam konsepsi tentang negara konstitusional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Moerdiono (dalam Suprayogi, 1992) memaparkan bahwa nasionalisme adalah tekad untuk hidup suatu bangsa di bawah suatu negara yang sama, terlepas dari perbedaan etnis, ras, agama ataupun golongan. UUD 1945 yang di dalamnya terkandung roh Pancasila itu merupakan piagam pemersatu kita sebagai satu bangsa yang hidup dalam kesatuan wadah NKRI.

Di dalam UUD 1945 segala hak dan kewajiban kita sebagai warga negara dipersamakan satu dengan yang lain antar sesama warga negara. Sebagai masyarakat kita beraneka-ragam, tetapi sebagai warga negara segala hak dan kewajiban kita sama satu dengan yang lain.

Pada suatu kesempatan pidatonya, Soekarno pernah berpesan agar bangsa ini “bertuhan secara kebudayaan”. Bertuhan secara kebudayaan adalah bertuhan yang mengedepankan sifat toleransi, solidaritas, dan keterbukaan.

Soekarno berkata, “Marilah kita amalkan, dijalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara yang berkeadaban; ialah hormat-menghormati satu sama lain.” Lima sila Pancasila harus dibaca dalam semangat kolektivitas yang memagari demokrasi dari kaum radikal. Ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan, dan keadilan adalah ide-ide kolektivitas. Kita tidak pernah bertuhan sendirian. Kita harus bertuhan sambil memelihara solidaritas antarmanusia.

Kenyataannya, ternyata kini Islam yang berorientasi ke arah radikal (bila tak hendak menyebut Islam Radikal) sebagai ideologi kembali muncul ke permukaan. Radikalisme dan fanatisme adalah dua hal yang “berbahaya”. Kelompok ini harus kita dekati dan diberi pengertian bahwa NKRI berdasarkan Pancasila adalah pilihan terbaik, yang sama sekali tidak melanggar prinsip agama Islam.

Dari bebagai ideologi politik dan agama, Pancasila dapat menimbulkan kepribadian secara selaras, serasi dan seimbang. Walau ada perbedaan cukup signifikan dari Piagam Jakarta ke Pancasila, namun itu sama sekali tidaklah bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan dari berbagai keyakinan adat dan agama apapun di Indonesia.

Pemahaman dan kecintaan tanah air

Upaya meningkatkan kecintaan terhadap tanah air Indonesia adalah keharusan dan tanggung jawab bersama. Dimulai dari diri sendiri untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai religiusme dan nasionalisme yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila. Melihat kenyataan pentingnya nasionalisme di era sekarang ini, membuat kita harus berpikir tentang bagaimana cara kita untuk bisa mengimplementasikan penanaman nilai-nilai nasionalisme tersebut dalam lingkup kehidupan sehari-hari.

Perlu bagi kita untuk tahu bahwa nasionalisme berawal dari suatu kesadaran. Maka dari itu, nasionalisme dapat dijabarkan dan ditularkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu cara menanamkan nilai-nilai nasionalisme dalam lingkup kehidupan sehari-hari adalah melalui pendidikan.

Melalui proses pembelajaran di sektor pendidikan, maka nilai-nilai pendidikan karakter dapat dimasukkan. Mengingat bahwa penanaman nilai-nilai nasionalisme merupakan suatu pembelajaran yang bersifat abstrak, maka lembaga pendidikan pun harus mengemas pembelajaran dengan metode yang tepat agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat diterima oleh semua orang sesuai dengan apa yang direncanakan.

Ketika nasionalisme itu berkolaborasi dengan pendidikan, maka yang akan terjadi adalah adanya rasa saling menghargai, serta keharmonisan antar sesamanya. (ila)

*Penulis adalah Analis Economic Action (EconAct) Indonesia dan Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Investor Daily, Horison, Kompas, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, Republika, Koran Jakarta, Kedaulatan Rakyat, Detik.com, dan Beritagar.id.