Merry Purwanita merasa tidak pernah mengalami keluhan setiap periode menstruasinya. Hingga suatu hari pada 2016 silam, perempuan 36 tahun itu merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya ketika menstruasi. Dia tak menyadari jika tubuhnya telah digerogoti kanker.

LATIFA NURINA, Jogja

MERRY adalah seorang dokter gigi di salah satu puskesmas di Cepu, Jawa Tengah. Saking sakitnya perut Merry kala itu membuatnya tak bisa beraktivitas seperti biasa. Apalagi menjalankan profesinya itu. Dia hanya bisa tiduran. “Daerah indung telur kanan dan kiri sakit sekali,” tutur Merry mengisahkan pengalamannya kepada Radar Jogja Jumat (1/2).

Seorang teman Merry yang berprofesi sebagai bidan lantas menyarankannya. Agar segera memeriksakan kondisi kesehatannya ke dokter ahli. Namun beberapa kali rencana periksa ke dokter gagal. Jadwal periksa yang telah ditentukan diundur. Karena berbagai alasan. Selain masalah waktu, ibu satu anak itu dihantui ketakutan dengan hasil pemeriksaan awal. Hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) dalam dan luar menunjukkan adanya massa di indung telur kanan dan kirinya. Massa tersebut adalah tumor yang besarnya delapan sentimeter dan enam sentimeter.

Saat itu kondisi tubuhnya persis seperti ibu hamil. Perutnya gendut. Sering merasa mual. Bahkan mengalami vertigo. “Persis orang ngidam. Tapi waktu itu nggak mungkin saya hamil. Karena belum kumpul sama suami yang jauh di luar kota,” ungkapnya.

Dokter spesialis kandungan lantas menyarankan Merry untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis onkologi kandungan. Setelah cek darah di laboratorium ditemukan penanda tumor (CA 125) sebesar 7.100. Padahal, kondisi aman seharusnya di bawah angka 35. Merry divonis kanker CA Ovarium. Betapa syoknya dia. “Dokter sudah nggak bisa bilang apa-apa. Aku terus menangis,” kenang Merry. “Penyebabnya juga nggak tahu. Yang jelas angka segitu (7.100) sudah parah,” sambungnya.

Tak ingin buang waktu, Merry segera memutuskan. Menyanggupi tindakan operasi. Operasi pertama dilakukan di RSUP Dr Sardjito, Jogjakarta. Kandungannya diangkat. Karena perlengketan dari cairan tumor tersebut sudah menjalar ke organ tubuh lain, seperti usus.

Merry harus menjalani satu siklus kemoterapi. Sebanyak 6 kali. “Satu bulan kemudian ternyata penanda tumornya masih tinggi. Kemoterapi lagi 6 kali,” katanya.

Pada 2017 Merry menjalani operasi kedua. Juga kemoterapi satu siklus lagi. Setelah 18 kali kemoterapi ternyata masih ada perlengketan cairan di pelvis. Rumah sakit di Indonesia saat itu belum ada yang bisa menangani kasusnya. Merry pun harus terbang ke Penang, Malaysia. Untuk menjalani 20 kali penyinaran atau radioterapi selama satu bulan.

Belum genap dua bulan pascaradioterapi, Merry masuk ICU. Ditemukan suatu massa di kepalanya. Selama dua hari dia sempat tidak sadarkan diri. Setelah kondisi Merry membaik, beberapa minggu terakhir ditemukan lagi perlengketan cairan di bagian limfanya. Saat ini istri seorang arsitek itu sedang merencanakan cuti untuk kemoterapi lagi.

Dari pengalamannya itu Merry ingin berbagi. Khususnya bagi perempuan yang awam dan belum menyadari pentingnya deteksi dini kanker. Misalnya dengan periksa payudara sendiri (Sadari) untuk mendeteksi tumor atau kanker payudara. “Kalau ada kesempatan, ikutlah pap smear atau IVA (untuk deteksi dini kanker serviks). Kalau ketahuan dini akan lebih ringan pengobatannya,” tutur Merry.

Merry juga mengingatkan pentingnya perilaku hidup sehat sejak dini. Selain menjaga pola makan, tubuh perlu istiharat yang cukup. Serta hindari stres. “Jujur kalau saya pola makannya yang buruk. Termasuk kebiasaan pakai minyak goreng diulang berkali-kali. Sebaiknya jangan,” imbaunya.

Kini, meski kondisi kesehatannya tak sebaik dulu, Merry tetap aktif bekerja. Dia legawa dengan mengambil hikmah positif dari penyakit yang dideritanya itu. Yang membuatnya sadar untuk lebih menjaga pola hidup sehat. Dia pun bersyukur memiliki anak, suami, dan keluarga yang selalu mendukung dan memperhatikannya. “Kalau menstruasiku nggak sakit mungkin malah nggak akan terpikir untuk periksa,” ungkapnya. (yog/tif)