JOGJA – Superhero Marvel, seperti Hulk dan Spiderman hadir di Jogja. Tapi bukan untuk menyelamatkan bumi dari Thanos. Hulk malah membawa kencrung dan Spiderman bersantai makan nasi pincuk.

Ya anggota Avengers itu hadir di kawasan pedestrian Jalan Suroto Kotabaru dalam bentuk sculpture. Bagi warga kehadiran sculpture atau patung tiga dimensi tersebut menghibur. Tapi tidak bagi kurator seni Kuss Indarto.Dia mengakui bahwa pemasangan patung tersebut hampir ahistoris. Namun semua ini bisa tersamarkan saat patung-patung tersebut berkolaborasi dengan kearifan lokal.

“Hulk bawa kencrung kotak pengamen lalu Spiderman duduk sambil makan nasi pincuk. Ini adalah wujud kolaborasi yang dikemas dengan pendekatan humor. Sekilas memang ahistoris tapi menjadi aktual dengan perilaku para superhero ini,” jelasnya, kemarin (5/2).

Kuss memandang konsep seni perupa adalah kontemporer. Memandang isu kekinian yang dikenal dengan sebuah jati diri lokal yang melekat. Alhasil karya tersebut menjadi sebuah kolaborasi baik dari sisi waktu maupun kedekatan lingkungan.

“Kebetulan saya kenal perupanya, semua superhero yang dipamerkan karya Amboro Liring. Dia punya konsep kuat ke tema. Pemunculan superhero dengan aktualisasi pengamen jalanan dan nasi pincuk,” ujarnya.

Kuss justru menyentil kebijakan instansi terkait. Pemasangan patung seakan dipaksakan. Terlihat dari jangka waktu penjabaran konsep, pemilihan patung hingga pemasangan.

Idealnya, jelas dia, sebuah karya publik disusun dalam jangka waktu satu tahun. Paruh tahun awal diawali dengan braind storming antara seniman dan kurator. Setelah menemukan ramuan yang tepat, ide dieksekusi menjadi karya dalam paruh tahun kedua.

“Selama ini kan kurang tiga minggu atau satu bulan baru dijabarkan. Karya patung dari fiber itu paling cepat satu bulan penggarapan, itupun sudah mepet sekali. Jadinyakarya yang dipasang karya lama yang dimodifikasi,” tegasnya.

Alumni ISI Jogja itu memninta tidak menjadikan sculpture sebagai proyek plat merah. Jika ingin berkolaborasi harus memikirkan konsep matang sebuah seni. “Jangan terkesan asal keluar dana untuk proyek tahunan. Kalau memang serius, seniman diajak diskusi jauh hari. Lalu libatkan kurator dan lintas disiplin ilmu lain untuk mengurasi konsep dan karya,” katanya.

Menanggapi pesan ini Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi menerima kritikan tersebut. HP beralasan pemasangan hanya sementara. Artinya patung tersebut tidak selamanya terpampang. “Kalau itu (kurasi) jadi komplek, ya memang harus semua itu. Tapi pameran ini kan sifatnya street art dan sementara saja,” katanya singkat. (dwi/pra/tif)