Di tengah derasnya modernisasi, beberapa permainan tradisional sudah hilang. Anak-anak lebih memilih memainkan gadget-nya ketimbang permainan terdisional. Padahal, banyak nilai-nilai positif di permainan tredisional ini.

IWAN NURWANTO, Bantul

Desa Janten, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul jaraknya tak terlalu jauh dari Kota Jogja. Bahkan, justru lebih jauh jaraknya ketimbang dari pusat Kota Bantul. Namun, di desa ini kita masih menemukan beberapa anak yang asyik memainkan permainan tradisional.Permainan plethokan dari bambu. Di daerah lain menyebutnya bedil-bedilan.

Permainan ini biasanya dilakukan secara bersama-sama. Mereka membentuk dua kelompok untuk saling tembak-tembakan. Mereka saling berkejaran. Perlengkapan utama adalah pletokan atau bedil (senjata, Red) yang terbuat dari dahan bambu dan dilengkapi tusuk.

Cukup mudah sebenarnya membuatnya. Namun, anak-anak sekarang bisa membelinya di beberapa penjual mainan keliling. Sedangkan amunisinya anak-anak sekarang menggunakan potongan-potongan koran yang dibasihi. Amunisi ini bisa juga menggunakan bunga buah jambu.

Bagi Bagus, 10 permainan ini di desanya masih mudah ditemukan. Penjual pletokan juga masih sering menjual di sekolah dan berkeliling di desanya mengungkapkan, permainan mengasyikan. Dia menganggap permainan tersebut bisa memberikan tersendiri.“Jadi bisa main kejar-kejaran sambil tembak-tembakan,’’ katanya.

Pemerhati permainan tradisional Agustina mengungkapkan, beberapa permainan tradisional memang cenderung melibatkan kegiatan fisik. Menurutnya dengan hal tersebut merupakan hal penting, dibanding jika anak banyak menghabiskan waktunya dengan gadget.

“Karena anak-anak sebenarnya memerlukan waktu untuk bermain di luar ruangan. Karena sangat berguna untuk pertumbuhannya” ujarnya.

Selain itu dengan permainan tradisional kedekatan anak dengan orang di sekitarnya bisa terjalin lebih erat. Hal itu didasari karena banyak proses komunikasi secara langsung yang dapat terjadi. Sehingga memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengutarakan pendapatnya.

Agustina juga mengkritisi tentang sedikitnya waktu bermain bagi anak-anak pada saat ini. Hal itu didasari atas semakin sedikitnya waktu anak untuk bermain. Menurutnya, pada jaman sekarang orang tua lebih mengedepankan tentang pendidikan formal untuk anak seperti mengikutkan les atau full day school. “Padahal memberikan waktu luang untuk anak bermain sangatlah penting,” ujar perempuan yang pernah menjadi panitia Festival Dolanan Anak di Kota Jogja ini. (din/riz)