SLEMAN – Kanker payudara bukan hanya menjadi momok bagi perempuan di DIJ. Tapi juga di Indonesia. Bahkan dunia. Berdasarkan data pada Dinas Kesehatan DIJ, jumlah kasus neoplasma ganas payudara setiap tahunnya mengalami peningkatan. Laporan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) pada 2014 menunjukkan temuan 190 kasus. Pada 2015 sebanyak 613. Kemudian 2016 terdapat 753 kasus. Lalu 2017 ditemukan 2.316 kasus.

Wakil Ketua I Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang DIJ Sunarsih menyatakan, selain kanker payudara, kanker serviks cukup mendominasi di Jogjakarta. Disusul kanker paru-paru. Kemudian kanker darah, yang banyak diidap oleh anak-anak. “Kanker payudara itu paling tinggi di dunia, di Indonesia, dan DIJ,” ungkapnya kepada Radar Jogja akhir pekan lalu.

Sunarsih menyebutkan, di Indonesia 1,4 orang per mil mengidap kanker payudara. Sedangkan di DIJ 4,1 orang per mil. Angka tersebut termasuk paling tinggi se-Indonesia. Dibanding provinsi lain. Pasien didominasi usia 45 – 55 tahun. Tak hanya perempuan, kanker payudara juga bisa melanda kaum Adam. “Meski jarang, tapi ada. Perbandingannya 1 : 88 dengan pasien perempuan,” kata Sunarsih.

Sunarsih menyayangkan masih banyaknya perempuan yang enggan mendeteksi dini potensi kanker pada tubuh mereka. Deteksi dini kanker payudara bisa dilakukan dengan cara sederhana. Yakni periksa payudara sendiri (sadari). Jika ditemukan benjolan asing di payudara, sebaiknya segera periksa ke dokter. Pemeriksaan medis dapat dilanjutkan dengan mamografi.

Penyebab kanker payudara ada banyak faktor. Selain gaya hidup dan pola konsumsi, penyakit ini bisa muncul karena faktor genetik. Misalnya seorang ibu memiliki riwayat kanker payudara, maka anak dan keturunannya memiliki risiko yang sama. “Tidak perlu takut, tapi waspada,” tutur Sunarsih.

Sedangkan kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papillomavirus). Virus ini bisa ditularkan lewat persenggamaan. Orang yang memiliki banyak partner untuk bersenggama atau ganti-ganti pasangan rawan terkena HPV.

Soal kanker paru-paru, Sunarsih menyatakan 90 persen pengidapnya adalah perokok. Namun kanker paru-paru baru dapat terdeteksi pada gejala stadium lanjut. “Maka ketika mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh harus segera diperiksakan ke dokter,” sarannya.

Terkait harapan hidup pasien kanker, menurut Sunarsih, tergantung kondisi orang tersebut. Jika ketahuan dini dan segera berobat ke dokter, angka harapan hidupnya cukup tinggi. “Ada yang kena kanker payudara. Sudah umur 70 tahun tapi masih tetap sehat,” katanya.

Maksud pernyataan Sunarsih selaras dengan motto YKI. Bahwa kanker dapat disembuhkan bila ditemukan dalam stadium dini dan penderita berobat medis secara cepat dan tepat. “Kalau sudah menyebar tidak ketulungan,” katanya serius.

Berdasarkan hasil survei YKI, lanjut Sunarsih, minimnya kesadaran masyarakat untuk pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini kanker lebih pada hal-hal yang tak lumrah. Faktor jarak tempat tinggal dengan rumah sakit kerap jadi alasan. Ada juga yang malu dan takut ketahuan jika ternyata memiliki kanker. Hal itulah yang terus digelorakan YKI dalam upaya promotif, preventif, dan suportif terhadap kanker. Sosialisasi kepada masyarakat, sekolah, dan instansi tentang pencegahan kanker. Khususnya kanker payudara dan serviks. “Peserta badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS), IVA di puskesmas kan gratis,” tuturnya.

Sunarsih mengatakan, relawan YKI siap mendampingi pasien kanker yang tak berani operasi. Itu sebagai bentuk suportif. “Yang tidak mau operasi, dengan alternatif. Berdoa saja. Mitosnya kalau operasi kankernya menjalar kemana-mana. Kena kanker pasti mati. Itu mitos,” tegas perempuan yang berprofesi sebagai apoteker itu.

Lebih lanjut Sunarsih mewanti-wanti masyarakat akan pentingnya dukungan psikologis bagi penderita kanker. Terutama untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Bahwa keberadaan mereka masih berguna. Mereka juga masih bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat. “Pokoknya kalau capek ya istirahat. Kesehatan tergantung psikologisnya juga, jangan merasa sakit,” tandasnya.

Sementara itu, sejauh ini telah ditemukan 200 jenis kanker. Dengan penanganan yang berbeda-beda. Hal itu terungkap dalam acara World Cancer Day 2019 di kampus Universitas Gadjah Mada, Selasa (5/2).

Ketua Panitia World Cancer Day 2019 dr Mardiah Suci Hardianti PhD SpPD-KHOM menjelaskan, penanganan kanker yang benar bisa dilakukan dengan multidisiplin. Penanganan bersama oleh tim multidisiplin bisa meningkatkan kualitas hidup serta ketahanan pasien kanker.

Tim multidisiplin beranggotakan penyedia layanan kesehatan dari berbagai disiplin ilmu. Yang nantinya membuat rencana terbaik bagi pasien. Kemudian diputuskan bersama-sama. “Mengingat kondisi penderita kanker tidak mudah dan harus didukung bersama-sama,” katanya.

Mardiah menambahkan, sebanyak 8,2 juta penderita kanker di dunia meninggal setiap tahun. Sebanyak 4 juta orang di antaranya meninggal pada usia 30 – 69 tahun. Pada 2025 diperkirakan muncul 19,3 juta kasus baru. Dengan angka kematian mencapai 11,5 juta orang. Lalu pada 2030 kematian penderita kanker diprediksi mencapai 12 juta orang setiap tahunnya. Ini karena populasi manusia terus meningkat, gaya hidup yang tidak sehat, serta minimnya aktivitas fisik seseorang. Prediksi tersebut bisa dipupus dengan deteksi dini kanker.

Kepala Instalasi Kanker RSUP Dr Sardjito dr. Kartika Widayati SpPD-KHOM menyatakan, kepedulian masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini kini semakin meningkat. Setidaknya itu dibuktikan dengan banyaknya temuan kasus kanker payudara stadium awal selama dua tahun terakhir. “Ini tidak pernah ditemukan sebelumnya,” ungkap Kartika.

Pencegahan kanker payudara, tambah Kartika, bisa dilakukan dengan menerapkan hidup sehat. Mengatur pola makan dan memperhatikan kandungan gizi dalam makanan. Yang terpenting, periksa payudara sendiri harus dilakukan secara rutin. Juga pemeriksaan IVA di puskesmas guna deteksi dini kanker serviks. (tif/cr7/yog)