SLEMAN – Sejak 2011, Pemkab Sleman berkomitmen melaksanakan perlindungan dan pemenuhan hak anak. Yakni dengan mengembangkan Program Kabupaten Layak Anak (KLA).

Salah satu implementasinya, diterbitkan Peraturan Bupati 42/2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KRT). Apalagi jumlah perokok di bawah umur semakin banyak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Sleman, Mafilindati Nuraini prihatin terhadap para perokok pemula. Berusia antara 15 tahun sampai 19 tahun.

Guna mencari solusi terbaik, pihaknya menggelar Forum Group Discussion (FGD) Kawasan Tanpa Rokok, Senin (3/2). Hal ini dilakukan untuk memberikan pemahamann tentang bahaya merokok.

Acara berlangsung di Aula Dinas P3AP2KB. Diikuti 60 peserta dari Forum Anak Sleman, Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) dan Saka Kenana.
“Menggandeng remaja untuk menjadi pelopor agar tidak merokok,” jelas Linda, sapaan Mafilindati.

Dikatakan, banyaknya anak usia remaja merokok dipicu lingkungan. Iklan rokok juga berkontribusi menarik minat anak merokok. Banyaknya para perokok di lingkungan juga membuat anak meniru kebiasaan para perokok.
Dengan FGD tersebut, diharapkan anak-anak tidak menjadi perokok. Melibatkan anak dalam melakukan deklarasi anak Sleman mendukung kawasan tanpa rokok.

Salah seorang warga Gamping, Eka Amalia, 24, prihatin adanya anak-anak yang mulai mengenal rokok. Tidak adanya pengawasan serta akses yang mudah untuk mendapatkan rokok, membuat anak membeli rokok.

Menurut Eka, lingkungan dan pergaulan yang salah memengaruhi anak melakukan hal negatif. Eka menyanyangkan banyaknya perokok yang mudah ditemui. “Secara tidak langsung, anak akan melihat dan meniru,” kata Eka, Selasa (5/2). (cr7/iwa/riz)