Mulai dari 18 hingga 28 Januari lalu, Seto belajar ke Spanyol. Kegiatan tersebut bagian dari tahapan kursus demi mendapat lisensi AFC Pro. Hasilnya, Seto mengaku pembinaan sepakbola di Indonesia tertinggal jauh.

“Pembinaannya luar biasa. Metodologinya bagus,” tutur Seto beberapa waktu lalu sepulang dari Spanyol.

Selama di negerinya Fernando Torres itu Seto beserta rombongan pelatih lainnya di Indonesia mengunjugi tempat latihan klub La Liga Spanyol, Deportivo Alaves.

“Manajemennya rapi, kita di Indonesia kalah jauh,” ujarnya mengomentari pengelolaan klub peringkat enam sementara La Liga itu.

Menurut dia, PSS Sleman perlu banyak belajar mengenai pengelolaan klub dan pembinaan pemain. “Bagaimana mengatur semua itu saya pikir dapat menjadi tambahan ilmu. Kalau teknis di lapangan sepertinya tidak jauh beda,” jelasnya.

Dari segi finansial, Seto menjelaskan, Alaves bukan klub kaya. “Kalau dibandingkan klub lain di Eropa masih miskin,” jelasnya. Sekalipun demikian, setiap pelatih mulai sari U-11 sampai U-23 telah memegang lisensi UEFA Pro.

“Selain itu, tiap pelatih juga mengambil spesifik tiap bagian yang ia tangani. Sementara kita AFC Pro saja belum,” jelasnya.

Di sana, lanjut dia, tiap staf kepelatihan, mulai dari pelatih fisik, kiper, dan bagian lain ditangani oleh pelatih yang berlisensi spesifik di bidangnya. “Sudah UEFA Pro, ambil spesifik lagi,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai penerapannya di Indonesia, ia kesulitan menjawabnya. “Kalau kita mau seperti itu bisa. Mungkin saat saya umur 75 tahun,” kelakarnya.(cr10/pra/tif)