SLEMAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman mengimbau masyarakat yang ingin membuat polisi tidur mematuhi aturan. Sebab selama ini masih ada masyarakat yang belum tahu aturannya.

Kepala Bidang Lalu Lintas, Dishub Sleman, Sulton Fatoni menjelaskan, secara istilah, polisi tidur tidak ditemukan di UU 22/209 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Namun, pada UU tersebut ada alat pengendali dan pengaman pengguna jalan.

Aturan lain, PP 79/2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Permenhub PM 82/2018 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan, menyebutkan, alat pengendali pengguna jalan merupakan alat pembatas kecepatan. Digunakan untuk meperlambat kecepatan kendaraan.

Berupa peninggian sebagian badan jalan dengan lebar dan kelandaian tertentu yang posisinya melintang di badan jalan. “Jika deskripsinya seperti itu, berarti itu adalah polisi tidur seperti yang diketahui masyarakat,” ujar Sulton.

Untuk membangun polisi tidur, tidak boleh sembarangan. Sulton menjelaskan, untuk membangunnya, masyarakat harus meminta izin ke pemangku kebijakan.
“Bersurat dulu, ke bupati. Nanti baru didisposisikan ke dinas-dinas terkait. Tentu juga melibatkan pihak kepolisian,” jelas Sulton.

Sosialisasi, kata dia, juga sudah sering dilakukan. Namun, sanksi tidak pernah dijatuhkan. “Belum pernah (sanksi), hanya dulu ada laporan dari warga karena lingkungannya kena dampak,” ucap Sulton.

Pembatas kecepatan, jika mengacu aturan, ada tiga. Speed bump, speed hump, dan speed table. “Secara umum, ketinggiannya antara 8-15 cm dengan lebar bagian atas 30-90 cm dengan kemiringan 15 derajat dan harus dicat, agar terlihat,” kata Sulton.

Untuk lokasi pemasangan, tidak ada aturan khusus. Prinsipnya, berdasarkan hasil survei. “Ini alat untuk menurunkan kecepatan,” ingat Sulton.

Salah seorang warga Sleman, Latfika Khusna, 22, tidak keberatan jalan kampung ada polisi tidur. Hanya saja, ketinggiannya harus diatur. “Kalau terlalu tinggi berbahaya,” kata Khusna.

Dia mengeluhkan adanya beberapa polisi tidur tidak dicat. “Itu juga berbahaya kalau tidak kelihatan, seperti jebakan,” ujar Khusna. (har/iwa/riz)