SAYA menonton film ini karena ingin ngecek seberapa solidkah pemeranan Melissa McCarthy yang masuk nominasi Aktris Utama Terbaik Oscar 2019 ini. Saya sama sekali tak mempedulikan ceritanya, bahkan sengaja tak sempatkan diri membaca sinopsisnya terlebih dulu. Ternyata, film ini berdasar kisah nyata tentang Lee Israel, penulis biografi berbasis NY yang sedang menjalani masa krisis dalam hidupnya.

Lee menginjak setengah abad. Dia yang gay (lesbian) telah berpisah dari kekasih hatinya. Di apartemen yang jarang ia bersihkan, dia hanya tinggal bersama seekor kucing yang juga sama-sama menua. Karya barunya sedang macet di tengah jalan. Tak ada agen yang berminat menerbitkan proyek barunya. Tagihan demi tagihan makin mencekiknya. Dalam kementokannya, secara kebetulan dia menemukan cara mencukupi keperluan sehari-harinya. Ia palsukan surat-surat dari figur-figur terkenal yang dicari banyak kolektor sastra.

Film ini pada dasarnya adalah drama aksi ,tapi yang menyegarkan di sini adalah aksinya berupa tindakan kriminal literer. Satu aksi kriminal yang cukup jarang dan kurang intens diangkat dalam perfilman. Meskipun begitu, film ini tetap mengedepankan unsur drama watak yang kuat. Di sinilah saya harus mengakui bahwa Melissa McCarthy layak bertengger di jajaran nomine Aktris Terbaik Oscar 2019.

Sejak awal film, saya merasa bahwa karakter utama yang sedang saya hadapi adalah ibu-ibu intelek yang ndwablek bin ngeyelnya nauzubillah. Sepanjang durasi film, Melissa berhasil membuatku yakin bahwa saya sedang menyaksikan langsung seorang Lee Israel. Seorang yang antiramah-ramah klub, menjengkelkan, tapi berprinsip. Justru ketika kita mengenalnya sebagai penulis yang beprinsiplah yang ssecara nggak langsung membuatku tetap ingin mengikuti nasib Lee hingga akhir cerita film, karena kita jadi mulai menaruh hati padanya. Kita sedang menghadapi karakter prinsipil yang bermain-main dengan komitmennya. Persimpangan inilah yang membuat plot film ini makin menarik, padahal Lee ini termasuk karakter yang potensial gagal atau susah menyita perhatian dan mencuri simpati penontonnya.

Sebagai film dengan karakter utama yang njelèhi, film ini sukses memikat hati. Karakterisasinya diperlakukan secara multidimensional sehingga penghakiman bukanlah tujuan akhir dari pesan moral film ini. Dramatisasi yang cenderung datar dalam film ini justru membuat saya nyaman menyimaknya, mengingatkanku kembali pada film-film kecil–tak populer– terabaikan macam The Visitor yang mempertontonkan interaksi sosial dalam kadar bersahaja tapi mengandung rasa dan pemikiran yang mendalam.

Inilah contoh film miskin momen-momen khusus yang monumental dan terkenang, tapi senantiasa berpeluang meninggalkan bekas di benak sebab letak keajaibannya terletak pada gaya penceritaan yang loyal pada karakter utamanya, yang mujurnya, dibawakan segenap jiwa. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.