JURNALIS acap kali disebut sebagai profesi paling dinamis. Sebagai bagian dari pilar keempat demokrasi, setiap harinya mereka dihadapkan pada isu baru, orang baru, maupun tantangan yang baru. Namun ada kalanya kebosanan tidak terelakkan, terutama ketika sudah terlalu lama berada di pos penugasan yang sama dan bergumul dengan isu yang itu-itu saja.

Pengulangan kerap membuat jengah. Belum lagi ketika seorang jurnalis dihadapkan pada persoalan ekonomi, atmosfer newsroom yang kuyu, kebijakan redaksi yang memble atau kegerahan pada bos yang ikut-ikutan berpolitik. Sederet hal itu berpeluang besar membuat semangat dan idealisme yang diyakini seorang jurnalis kian terjun bebas.

Kala energimu sebagai juru berita berada di titik nadir, perlu serangkaian upaya untuk membuatnya menjadi sedikit lebih baik. Salah satunya dengan mengingat bahwa jurnalis adalah profesi yang baik dan berguna seperti yang direkam dalam sejumlah film. Kalau dianggap terlalu berlebihan, ya ndak papa. Anggap saja penghiburan diri. Nah, berikut lima film tentang media yang diproduksi Hollywood. Semoga bisa jadi idealism booster bagi jurnalis yang sedang bosan namun masih punya harapan baik atas profesinya.

  1. The Post (2017)

Pilih mana; uang, relasi atau idealisme? Tema yang diusung oleh film garapan Steven Spielberg ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada dilema esensi vs money. Cerita di dalamnya diambil dari kisah nyata di internal The Washington Post di awal 1970an dalam mengungkap delusi dua dekade Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang ngotot untuk terjun dalam Perang Vietnam. Meski studi yang dilakukan oleh internal pemerintah menunjukkan bahwa perang yang dipicu oleh arogansi bipolar kekuasaan dunia tersebut tidak berfaedah bagi AS, namun pemerintah AS mengklaim bahwa perang berlatarbelakang perang dingin tersebut membawa kebaikan dan kepahlawanan.

Cerita ini diawali dari saat The New York Times mendapat bocoran dokumen rahasia terkait studi tentang Perang Vietnam dari Daniel Ellsberg (Matthew Rhys) seorang mantan analis militer pemerintah AS. Ribuan lembar hasil riset bersifat rahasia yang merugikan masyarakat AS tersebut pun dipublikasi oleh The New York Times.

Berita besar di koran New York tersebut pun mengejutkan sekaligus mengusik The Washington Post yang tidak mendapatkan materi berita serupa. Pemimpin Redaksi The Washington Post kala itu, Ben Bradlee (Tom Hanks), dalam rapat redaksi memerintahkan untuk awak redaksinya untuk mencari dokumen itu. Ben Bagdikian (Bob Odenkirk), salah satu asisten redaktur pun menelusuri narasumber dan mendapatkan dokumen rahasia yang dicari.

Tapi cerita tidak berhenti di situ. Ada keputusan besar yang harus diambil oleh nakhoda The Washington Post, Kathrine Graham (Meryl Streep). Dilema ini cukup krusial, apakah memilih untuk melakukan kerja ideal sebagai media? Atau memilih menjaga relasi dan bisnis sebab salah satu orang yang akan “diserang” adalah sahabat lamanya sendiri, Menteri Pertahanan Robert McNamara (Bruce Greenwood) dan belum lagi ada kekhawatiran akan tuntutan hukum dan sentimen negatif sebab perusahaan tersebut baru melakukan initial public offering (IPO) guna mendapat modal bisnis yang lebih besar.

Quote favorit: I’ve always wanted be part of a small rebellion (Ben Bagdikian)

  1. All the President’s Men (1976)

Apa yang terjadi setelah The Post? Kamu bisa menemukannya di film All President’s Men karya sutradara Alan J. Pakula. Film ini merupakan adaptasi buku non fiksi berjudul senada yang ditulis oleh dua reporter The Washington Post; Carl Bernstein dan Bob Woodward. Kali ini kamu masih bertemu dengan Sang Pimred Ben Bradlee (Jason Robards) yang akan mengingatkanmu pada salah satu poin dari sembilan elemen jurnalisme ala Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yaitu disiplin verifikasi.

Film ini mengisahkan tentang reportase The Washington Post yang menguak Skandal Watergate yakni serangkaian aksi pengintaian politik, sabotase dan penyuapan yang dilakukan oleh Partai Republik menjelang pemilihan presiden di tahun 1972. Reportase yang berkelanjutan di media harian oleh dua reporter Carl Bernstein (Dustin Hoffman) dan Bob Woodward (Robert Redford), serta serangkaian upaya dari beragam pihak berhasil menumbangkan Presiden Nixon dari singgasana “US 1” di tahun 1974.

Terkuatnya Skandal Watergate berawal dari sidang 5 orang pencuri di Komite Nasional Partai Demokrat di Kompleks Watergate. Mereka tertangkap akan memasang alat penyadap di markas partai tersebut. Bob Woodward yang kala itu masih “reporter kemarin sore” meliput sidang tersebut dan merasa curiga mengapa para terdakwa ditemani oleh pengacara elit.

Mungkin di hari pertama bekerja, redakturmu pernah bilang kalau jurnalis itu harus skeptis. Itulah yang dilakukan oleh Woodward dengan mengulik ada apa di balik peristiwa yang terkesan banal itu. Skeptisme itu akhirnya mempertemukan Woodward dengan seorang whistle blower yang disebut oleh Bradlee sebagai Deep Throat. Di pertemuan rahasia antara keduanya, Deep Throat mendapatkan background tentang serangkaian skandal politik tersebut. Oleh karena Woodward tidak bisa menjadikan Deep Throat sebagai narasumber berita, ia dan rekannya Bernstein harus menyusun puzzle yang sedemikian rumit tersebut dengan menkonfirmasi ke pihak-pihak terlibat. Dan itu tidaklah mudah.

Meski sempat sangsi dengan ide liputan soal Skandal Watergate yang diajukan oleh Woodward dan Bernstein, Ben Bradlee tetap mendorong investigasi dilakukan. Tapi di beberapa kesempatan, Bradlee ragu untuk mempublikasi tulisan keduanya karena dinilai belum terverifikasi. Keduanya terus dipaksa untuk mendapatkan verifikasi dari pejabat-pejabat Partai Republik dan Gedung Putih terkait.

Disiplin verifikasi harusnya jadi pelajaran penting bagi media kita saat ini supaya tetap bisa independen dengan melakukan cover all sides. Sekaligus, pelajaran bagi kita tentang pentingnya mendengarkan dari banyak sisi supaya tidak menjelma menjadi masyarakat yang hobi menghakimi tanpa paham gambaran utuh.

Quote Favorite: Follow The Money! (Deep Throat)

  1. Spotlight (2015)

Film tentang perlawanan terhadap kebusukan status quo ini memenangkan Academy Award untuk kategori Best Picture pada 2016. Berbeda dengan dua film sebelumnya, film ini spesifik merujuk pada corak kerja tim investigasi bernama Spotlight yang kontinu dan memakan banyak waktu sebelum akhirnya dicetak di The Boston Globe.

Spotlight pun diambil dari kisah nyata. Pada tahun 2001, tim tersebut terdiri dari empat orang yakni editor Walter Robinson (Michael Keaton) serta tiga repoter dan pengumpul data; Michael Rezendes (Mark Rufallo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James). Tim ini melapor pada pemimpin redaksi mereka Ben Bradlee Jr (John Slattery). Ben Bradlee Jr sendiri merupakan anak dari Ben Bradlee pimpinan redaksi The Washington Post yang disebut pada dua film sebelumnya.

Liputan mereka mengungkap skandal pelecehan seksual terhadap anak laki-laki oleh kurang lebih 90 pastor di Boston Amerika Serikat tahun 1976. Hampir 25 tahun, kasus tersebut tidak digubris oleh media maupun publik. Di tahun 2001, Marty Baron (Liev Schreiber) seorang editor baru di The Boston Globe membaca artikel yang mewartakan seorang pengacara Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) mengungkapkan bahwa Uskup Agung Boston Kardinal Bernard Law (Len Cariou) tahu tentang kasus pelecehan seksual oleh salah seorang pastor. Baron kemudian meminta tim Spotlight untuk menginvestigasi kasus tersebut. Berawal dari satu kasus, berakhir di 90 kasus.

Di film ini, kita bisa sedikit banyak belajar tentang kerja investigasi. Liputan investigasi punya corak kerja yang berbeda dibandingkan liputan harian yang acap kali terkendala deadline di sore atau malam hari. Kita bisa lihat bagaimana para wartawan mengejar narasumber yang susah diajak bicara dan memburu dokumen penting. Dari situ pula, kita belajar bagaimana mempersuasi narasumber untuk mau memberikan informasi. Tentu saja hal itu tidak semudah membalikkan terlapak tangan.

Kemudian, secara detail para wartawan tersebut membuka arsip dan dokumen yang sudah sangat lama. Ketelitian dan kesabaran adalah dua senjata utama dalam menyisir data yang diperlukan. Setelah menyisir data, tim Spotlight ini pun berhasil menemukan pola kerja dari sistem gereja dalam menangani kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh para pastur. Artinya, kejelian dalam membaca pola adalah salah satu skill yang harus dimiliki oleh wartawan investigasi. Di sisi lain, dalam film ini kita bisa mengapresiasi pentingnya arsip. Pun, ini jadi pelajaran bagi media tentang pentingnya menjaga dan merawat arsip.

Seperti dua film di atas, kita pun dapat melihat kekuatan tulisan dalam meruntuhkan status quo. Namun Spotlight punya efek domino yang mendunia karena melibatkan organisasi keagamaan terbesar di dunia. Pasca berita dirilis pada hari minggu yang tenang, Spotlight menerima banyak pengaduan dari korban pelecehan seksual yang akhirnya berani buka suara. Berita tersebut pun didengar oleh penjuru dunia yang lain, dan para korban dari kasus sejenis di berbagai negara pun mulai berani bicara tentang kekejian yang sama.

Quote Favorit: We got two stories here: a story about degenerate clergy, and a story about a bunch of lawyers turning child abuse into a cottage industry. Which story do you want us to write? Because we’re writing one of them (Walter Robinson)

Selain tiga rekomendasi di atas, masih sangat banyak film sejenis yang bisa kamu simak di antaranya: The Paper (1994), State of Play (2009), Networks (1976), Nightcrawler (2014), Sweet Smell of Success (1957) dan serial The Newsroom (2012-2014). Semoga film-film di atas bisa mereduksi kebosananmu dan semoga kamu bisa menikmati kembali pekerjaanmu yang berguna itu.

*Penulis adalah editor bidang Pembangunan Sosial di Perusahaan Media Monitoring PT Binokular Media Utama, mantan jurnalis Jawa Pos Radar Jogja dan alumnus Pascasarjana Fisipol UGM