GUNUNGKIDUL – Dianggap fenomena lazim, kemunculan sinkhole di Gunungkidul tetap selalu mengundang perhatian masyarakat. Polisi pun harus turun tangan. Membentangkan pita police line di seputar sinkhole. Agar tak ada orang yang mendekat. Alasannya demi keamanan.

Seperti kejadian sinkhole di Padukuhan Dadapan RT 20 / RW 08, Petir, Rongkop baru-baru ini. Lahan pertanian milik Sujoko, 45, amblong membentuk kubangan. Sedalam 2,5 meter. Berdiameter sekitar 1 meter. Jadi perbincangan warga sejak Rabu (31/1). Sinkhole tersebut menjadi yang pertama diketahui di 2019. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat setahun lalu, pada periode yang sama (akhir 2017 – awal 2018), terjadi 32 sinkhole.

Kepala BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, kemunculan lubang menganga di tangah pekarangan warga merupakan hal biasa. Itu menjadi ciri karakteristik wilayah pegunungan karst. “Banyak cekungan atau celah tanah dan juga terdapat sungai bawah tanah,” jelasnya Jumat (1/2). “Pagi ini (kemarin) tim cek ke lokasi, hasilnya belum dapat kami sampaikan,” lanjut Edy.

Tanah amblas biasanya ditandai dengan gejala awal berupa cekungan dalam kurun waktu tertentu. Kemudian tertimbun tanah. Hujan menyebabkan air menggenangi cekungan itu. Air bercampur tanah masuk ke lubang kecil (diasbut ponor). “Itu yang mengakibatkan tanah amblas,” tuturnya.

Sementara itu, Sujoko mengaku tak mengetahui tanda-tanda awal terjadinya sinkhole di ladang jagungnya. “Rabu (30/1) siang masih ada petani beraktivitas di ladang. Tak ada tanda apa-apa,” ungkap Sujoko. Dia menduga sinkhole terjadi pada malam harinya ketika hujan deras.

Sinkhole berada tapat di tengah-tengah ladang jagung. Di dalamnya terdapat tumpukan sampah. Warga berupaya menutup lubang tersebut tapi belum berhasil.

Kapolsek Rongkop AKP Suyanto mengatakan, tanah amblas di kawasan tersebut ada di dua titik. Satu sinkhole merupakan kejadian tahun lalu. “Kami pasang police line sejak Kamis (31/1) malam,” kata Suyanto. (gun/yog)