GUNUNGKIDUL – Namanya Satiran, pria paruh baya yang berprofesi sebagai buruh harian itu menempati hunian tak layak huni di Dusun Kepek, Desa Semin, Kecamatan Semin, Gunungkidul.

Pada Jumat siang (1/2) tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY bersama Relawan MRI Gunungkidul bergerak meberikan bantuan paket pangan serta pemeriksaan kesehatan gratis. Setelah mendapat laporan dari warga sekitar atas kondisi keluarga Satiran yang memprihatinkan tersebut.

”Dengan penghasilan yang kecil, keluarga bapak Satiran hanya mampu menambal rumahnya dengan seng bekas dan seadanya, lantai dari tanah beralas tikar, dan kamar mandi yang seadanya, selain itu anak tertua pak Satiran pun harus merantau ke Solo untuk bekerja setamat SMP,” jelas koordinator program ACT DIY Kharis Pradana.

Selain berkunjung di kediaman sederhana tersebut, tim ACT-MRI juga berkesempatan berkunjung ke kediaman Tiyono yang lokasinya tidak jauh dari rumah Satiran. Tiyono juga tinggal di rumah tidak layak huni, di sana tim ACT-MRI juga melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan bantuan paket pangan ”Beri Asa Yogyakarta”.

Dengan penghasilan rata-rata Rp 500 ribu, Tiyono yang kesehariannya bekerja sebagai pengrajin akar wangi harus menghidupi seluruh keluarganya. Kondisi rumah Tiyono juga tidak kalah memprihatinkan, dinding rumah yang sudah rapuh dan terbuat dari tempelan-tempelan seng bekas, serta atap yang kerapkali bocor ketika hujan.

Keluarga Satiran dan Tiyono merupakan sedikit dari banyak masyarakat di Wilayah Gunungkidul yang hidup di bawah garis kemiskinan. ”Dalam kaitannya, kemiskinan dapat menjadi pangkal dari kelaparan, pengangguran serta kriminalitas, bahkan sampai level bunuh diri akibat tekanan kebutuhan hidup yang sulit,” tambah Kharis. (*/ila)