JOGJA – Atlet-atet panjat tebing Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) tengah menjalani latihan serius di papan panjat di Kompleks Stadion Mandala Krida. Di bawah asuhan pelatih Sulthoni Sulaiman, mereka mempersiapkan diri guna menghadapi beberapa kejuaraan.

Namun, program latihan ini kerap kali kurang maksimal dan tidak fokus. Salah satu alasannya, para atlet kesulitan mengatur waktu antara menjalani latihan dengan jadwal kuliah atau sekolah. Akibatnya, program yang dicanangkan pun menjadi kurang maksimal. ”Untuk mengakali dengan  menambah jadwal latihan pada Minggu,’’ jelasnya Jumat(1/2).

Setidaknya ada 12 atlet yang kini di bawah asuhannya. Mereka adalah Novaria Rahman, Seto, Rahma Yuna Fadhila, Niken, Dyah Puspitaningtyas, Amelia Windiharista, Andika, Ismunugroho, Agus Satriyo, Sukma Lintang, dan Suryo Agung Pangestu.

Saat ini latihan masih memasuki tahap persiapan umum. Persiapan ini mencakup peningkatan daya tahan fisik. Selain itu, ada pula peningkatan kekuatan. “Untuk kapasitas aerobiknya dengan lari,” jelasnya.

Persiapan khusus akan dijalani pada Maret mendatang. Persiapan ini akan lebih difokuskan pada simulasi kompetisi di nomor pertandingan masing-masing. Ada tiga macan, yakni lead, speed, dan boulder. Untuk lead, atlet menggunakan tali pengaman yang dikaitkan dengan rekan satu regu. Untuk speed, bertanding siapa yang paling cepat mencapai atas. Sedangkan boulder dinilai dari poin yang didapatkan dari ketangkasan atlet memanjat tanpa tali pengaman.

Sultoni menilai, selama ini atlet-atlet panjat tebing DIJ masih bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Saat ini, pemusatan latihan ini selain sebagai persiapan berbagai kejuaraa, juga dalam rangka persiapan menuju PON 2020 mendatang. “Saat ini yang penting masuk pra-PON dulu,” jelasnya. (cr10/din)