SLEMAN-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyiapkan 600 ribu masker untuk mengantisipasi erupsi Gunung Merapi. Bupati Sleman, Sri Purnomo (SP) mengatakan masker disiapkan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu.

“Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, bisa dibagikan ke masyarakat,” kata SP, Kamis (31/1).

Pemkab juga menyiapkan pos pantau siaga sebanyak 12 lokasi. Lokasinya di tempat-tempat vital, seperti di Pakem dan Cangkringan. Selain itu, pihaknya juga turut menyiagakan 12 barak utama. Di antaranya di Cangkringan, Ngemplak, Turi, dan Pakem.

SP meminta masyarakat ataupun wisatawan berhati-hati. Sebab sejumlah destinasi wisata ada di Lereng Merapi. “Aktivitas wisata lava tour Merapi tidak terganggu. Tapi kehati-hatian dijaga bersama-sama,” kata SP.

Dia memastikan, sebanyak 164 rambu evakuasi sudah terpasang sejak 2018. Selain itu, ada juga 20 early warning sistem (EWS) dalam kondisi siap. Lokasinya ada di Kali Gendol, Opak, Boyong, dan Kali Kuning. “Kami juga selalu update informasi terkini Merapi.’’

Kepala Pelaksana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Joko Supriyanto mengatakan, aktivitas Merapi tergolong masih rendah. Meski begitu, pihaknya melakukan kesiapan personel.

“Rata-rata pertumbuhan kubah lava 2.500 meter kubik per hari. Dan itu rendah. Karena yang tinggi kalau sudah 20.000 meter kubik per hari,” katanya.
Joko mengatakan, potensi lahar hujan di sungai yang berhulu di Merapi dinilai masih rendah. Sebab material di Lereng Merapi jumlahnya tidak banyak. “Potensinya kecil,” ungkap Joko.

Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto mengatakan, erupsi 2010 mengakibatkan dam yang difungsikan sebagai kantong lahar dan penghalang aliran lahar panas jebol. Pada erupsi 2010, dinding kawah bagian selatan jebol dan mengakibatkan letusan Merapi mengarah ke Gendol.

Dam yang sejatinya digunakan sebagai pengendali material vulkanik tidak mampu menahan jumlah material yang sampai jutaan kubik. Akibatnya banyak dam jebol. Menurut Heri, fungsi utama dam bukan untuk material vulkanik seperti magma. Melainkan sebagai penghambat aliran lahar hujan.

Di Kali Gendol, telah ada 14 dam. Itu baru di Kecamatan Cangkringan. Heri menjelaskan lokasi dam ada di Kaliadem, Kopeng, Batur, Manggong, Ngancar, Banjarsari, Bakalan, Bronggang Suruh, Jetis, dan Brongkol.

“Namun dari 14 dam itu, baru 10 dam yang nampak. Dari Kaliadem hingga Kopeng ada empat dam yang masih terkubur material,” kata Heri.

Terkait luncuran awan panas, warga di sekitar Merapi masih beraktivitas normal. Bahkan penambangan pasir masih berjalan. “Semua masih seperti biasa. Namun tetap waspada. Truk pengangkut pasir masih melintas, tambang masih jalan,” kata warga Desa Glagaharjo, Tri Hartati, 29. (har/iwa/riz)