GUNUNGKIDUL – Image Kabupaten Gunungkidul sebagai kabupaten langganan kekeringan sepertinya bakal memudar. Itu seiring dengan masifnya program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Sebut saja pada 2019. Ada 15 desa yang tersasar program dari pemerintah pusat ini.

”Pada tahun lalu juga menyasar 15 desa,” jelas Bupati Gunungkidul Badingah saat peresmian instalasi Pamsimas di Desa Karangmojo, Kecamatan Karangmojo, Rabu (30/1).

Badingah optimistis wilayah langganan krisis air bersih saat musim kemarau berkurang. Begitu pula dengan jumlah warga yang rutin terdampak kekeringan.
Sebagaimana diketahui, ada 54 desa di 11 kecamatan yang mengalami krisis air bersih pada 2018. Merujuk data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, jumlah warga yang kesulitan air bersih sebanyak 96.523 jiwa.

“Dengan pamsimas kesulitan air bersih masyarakat lambat laun dapat teratasi,” ucapnya.

Meski pamsimas cukup masif, Badingah tetap berencana menggandeng pihak swasta. Agar corporate social responsibility perusahaan disalurkan untuk menuntaskan problem krisis air bersih.

”Agar kekurangan air bersih bisa teratasi,” katanya.

Di tempat yang sama, Koordinator Konsultan Tingkat Provinsi Pamsimas Dewa Bagus Sutrisno mengatakan, pembangunan pamsimas berdasar usulan pemerintah desa (pemdes). Fasilitator dari kementerian bakal memberikan pendampingan jika permohonan pemdes disetujui.

”Anggaran yang disediakan untuk satu desa Rp 245 juta,” sebutnya.

Terkait kapasitas pamsimas di Karangmojo, dia menyebut mampu menyuplai 200 kepala keluarga (KK). Tiap KK mendapatkan 60 liter per hari.

”Untuk iuran bulan tergantung kesepakatan pengurus (pamsimas),” tambahnya. (gun/zam/fn)