BANTUL – Buah komitmen pemkab memprioritaskan bidang kesehatan mulai dipetik. Itu terlihat dari menurunnya jumlah balita stunting di Kabupaten Bantul. Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, balita stunting di Bumi Projotamansari pada 2018 sekitar 9,77 persen. Sementara, pada 2017 sekitar 10,41 persen. Persentase itu dari 52 ribu balita se-Bantul.

”Penurunannya 0,64 persen dibanding tahun sebelumnya,” jelas Bupati Bantul Suharsono saat peringatan Hari Gizi Ke-59 di Balai Desa Sumberagung Senin (28/1).

Kendati begitu, pensiunan perwira menengah Polri ini tetap meminta jumlah balita stunting harus ditekan. Dengan berbagai program. Sebab, penanganan sektor apapun harus melalui lintas sektoral. Tak terkecuali sektor kesehatan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Sesuai dengan peran masing-masing.

”Upaya tersebut juga bersinergi dengan sistem pangan. Agar penerapan pola gizi seimbang bisa tercapai. Bahkan, saat balita masih dalam kandungan,” ucapnya.

Guna meraih target itu, pria kelahiran Beji, Sumberagung, Jetis, ini tak mempersoalkan besaran anggaran yang dibutuhkan. Bahkan, Suharsono berjanji bakal menambah anggaran sektor kesehatan jika saat ini dianggap masih kurang.

”Tapi, jumlah balita stunting harus terdata dengan baik,” ingatnya.

Bagi Suharsono, balita merupakan aset Kabupaten Bantul. Dengan begitu, kondisi balita saat ini sangat menentukan nasib masa depan Kabupaten Bantul.

”Jangan sampai ada anak Bantul yang kekurangan gizi,” pesannya.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes Bantul Anugrah Wiendyasari mengungkapkan, stunting merupakan masalah gizi kronis. Itu akibat kekurangan asupan gizi dalam waktu cukup lama. Asupan makanan yang diberikan ke balita kurang sesuai dengan kebutuhan gizi.

Ketika disinggung mengenai penurunan balita stunting, Anugrah menyebut karena kesadaran masyarakat untuk memberikan asupan gizi kepada anaknya meningkat.

”Data (jumlah balita stunting, Red) berdasar riset kesehatan dasar (riskesdas) pusat dan daerah,” ungkapnya.

Riskesdas daerah, lanjut Anugrah, melalui kader. Para kader yang telah divalidasi petugas gizi ini melakukan pemantauan di wilayahnya masing-masing. Sedangkan riskesdas pemerintah pusat mengacu pada masalah kesehatan. Mereka memantau langsung di lapangan.

Seperti intruksi bupati, Anugrah memastikan dinkes tetap fokus pada balita stunting. Sebab, Kabupaten Bantul menjadi salah satu kabupaten prioritas penanganan stunting.

”Caranya dengan melakukan pemantauan status gizi,” tambahnya.

Sejumlah pejabat dan tokoh ikut hadir dalam acara itu. Salah satunya istri bupati Bantul Erna Suharsono. Usai acara, ibu dua anak itu memberikan asupan tambahan kepada sejumlah balita. (*/cr6/zam/riz)