Menjaga lingkungan tidak hanya menjadi komitmen dinas lingkungan hidup. Lintas instansi wajib memiliki komitmen serupa. Seperti yang ditunjukkan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ngemplak.

SLEMAN, Dwi Agus

SEPERTI biasanya, KUA Kecamatan Ngemplak selalu tampak sibuk. Hampir saban hari ada puluhan calon pasangan pengantin yang keluar masuk. Untuk mempersiapkan berbagai syarat administrasi pernikahan.

Jika dicermati, ada satu syarat unik yang diterapkan KUA Ngemplak. Berbeda dengan persyaratan KUA pada umumnya. Setiap pasangan diwajibkan menyerahkan dua bibit pohon buah. Bibit ini diserahkan bersamaan dengan syarat dokumen lainnya. Namun, bibit ini tidak menjadi salah satu benda yang wajib ada saat ritual akan nikah. Melainkan cukup ditanam di wilayah Kecamatan Ngemplak.

”Nama programnya Gerakan Pernikahan Hijau Lestari. Sudah dicanangkan sejak 2012 dan masih berjalan hingga sekarang,” jelas Kepala KUA Kecamatan Ngemplak H. Nurul Amri saat ditemui belum lama ini.

Berjalan enam tahun ternyata program ini berjalan konsisten. Bahkan, nyaris seluruh sepasang calon pengantin bersedia menyumbangkan bibit pohon. Tanpa harus diingatkan, mereka membawa bibit. Yang menarik, tidak sedikit di antaranya yang menyumbang lebih dari dua bibit.

MELESTARIKAN ALAM: Bibit pohon dari calon pasangan pengantin (caten) ditanam pihak KUA Ngemplak beberapa waktu lalu. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Amri selalu berpesan bahwa pernikahan tidak hanya menjaga keharmonisan hubungan manusia. Manusia perlu menjaga hubungan kuat dengan alam. Caranya dengan tidak merusak dan turut menjaga sekaligus merawatnuya.

Menurutnya, program ini mengajarkan pasangan suami istri untuk turut menjaga alam. Keselarasan ini mirip layaknya membina hubungan rumah tangga. Jika harmonis, hubungan akan terasa sejuk dan nyaman.

“Kita ini kan hidup numpang di bumi, kalau alam tidak kita jaga tentu akan rusak. Sehingga sudah sewajarnya manusia yang hidup di dalamnya turut menjaga kelestarian bumi tempat semuanya berpijak,” ujarnya.

Gerakan pernikahan hijau lestari tak hanya sekadar momentum. Usai menjalani prosesi sakral pernikahan, sepasang suami istri juga wajib peduli dengan alam. Baik itu dalam lingkungan rumahnya maupun sekitarnya.

Dia juga menganjurkan setiap pasangan menanam tanaman yang tepat. Yang memiliki manfaat bagi lingkungan. Tidak sekadar hijau. Sebab, keberadaan tanaman memiliki manfaat jangka panjang. Tidak sekadar untuk menjaga ekosistem. Melainkan juga menghasilkan buah-buahan yang bisa dinikmati.

Karena itu pula, KUA Ngemplak selalu menyarankan tanaman jenis buah-buahan. Pertimbangannya, selain hijau juga menghasilkan.

Dari sekian banyak pohon, Amri menyebut pohon mangga menjadi favorit. Selain mudah ditanam, masa berbuahnya relatif cepat. Kelengkeng, manggis, rambutan, dan jeruk menjadi pilihan favorit setelah mangga.

“Pohon yang ditanam juga menjadi amal jariyah bagi pasangan pengantin kelak. Pahalanya akan mengalir terus dengan penanaman pohon. Ditambah buah dari pohon bisa dipetik dan bermanfaat untuk warga lainnya,” katanya.

Diakui, tidak mudah mengawal program tersebut. Ada masa di mana komitmen pegawai maupun pasangan calon pengantin naik turun.

“Program ini merupakan paket dari kursus calon pengantin. Jadi memang sudah sepaket kalau ingin mengajukan pernikahan,” katanya.

Alvredo Yustian Nico dan Versinta Wening Pradeni, salah satu pasangan suami istri tidak keberatan dengan program ini. Mereka justru mendukung program kecintaan pada alam.

Camat Ngemplak Siti Wahyu Purwaningsih berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin. Artinya, tidak hanya pada masa pimpinan tertentu. Sehingga kebijakan akan terus berjalan meski pimpinan lembaga terus berganti.

Menurutnya, konsep penanaman bisa dikemas dalam bentuk masif. Seluruh bibit terlebih dahulu dikumpulkan lalu ditanam secara bersama-sama. Konsep ini dipercaya akan melahirkan rasa bangga saat berpartisipasi.

“Pasangan pengantin juga harus menjadi agen lingkungan di wilayahnya masing-masing. Turut melestarikan dan mengajak tetangga kanan kiri untuk peduli terhadap lingkungan,” pesannya. (zam/fn)