Dari kawasan minus hingga menjadi rujukan berbagai negara. Dari tandus nan gersang hingga menjadi asri. Itulah hasil sentuhan Suratimin Sukro Utomo terhadap kampung halamannya.

GUNAWAN, Gunungkidul

Suratimin Sukro Utomo kini dapat tersenyum puas. Buah kerja keras belasan tahun lalu telah dipetiknya. Dusun Salak, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, tak lagi gersang, tandus, nan panas. Kampung halaman Suratimin itu juga tak lagi dikenal sebagai wilayah minus di Gunungkidul.

Ya, suasana Desa Semoyo memang terasa sejuk. Banyak pepohonan tinggi menjulang ke langit. Di kanan kiri jalan. Tampak asri. Suasana serupa juga terasa di seluruh Desa Semoyo. Seperti saat Radar Jogja bersinggah di desa seluas 575 hektare itu Kamis (24/1) lalu.

”Sebelum 2004 sangat gersang dan panas. Apalagi, saat kemarau,” kenang Suratimin tentang kondisi kampung halamannya.

Tangan Suratimin mulai ”gatal” saat kembali ke kampung halamannya. Sepulang merantau di Kalimantan dan Papua. Saat itu, hati Suratimin tergerak ingin mengubah wajah Dusun Salak. Dengan mengajak 20 petani. Membentuk Masyarakat Peduli Petani (MPP).

Pelan-pelan, kelompok yang belakangan berubah menjadi Serikat Petani Pembaharu (SPP) menanam pepohonan. Di area hutan rakyat yang tandus itu. Dengan lima jenis tanaman pohon. Ada jati, akasia, mahoni, sonokeling, dan sengon laut.

”Warga juga menanam di empat pedukuhan lain di Desa Semoyo. Yaitu, Brambang, Pugeran, Semoyo, dan Wonosari,” tuturnya.

Semangat Suratimin dan para petani kian terlecut. Setelah mereka melihat beberapa sudut muncul sumber mata air. Ada 21 sumber mata air yang kembali berfungsi. Mereka bersemangat menanam pohon kembali. Tak terkecuali saat musim penghujan.

”Sekitar sumber mata air juga ditambah tanaman biar tetap lestari,” ungkap Suratimin para petani juga membuat lubang-lubang baru di ladang untuk menyerap air hujan.

Sering waktu berjalan, pepohonan di atas lahan seluas 475 hektare itu tumbuh tinggi. Tangan Suratimin pun kembali ”gatal”. Setelah melihat banyaknya dedaunan kering. Dia kemudian berinisiatif memanfaatkannya menjadi pupuk organik. Juga pestisida organik.

Yang menarik, Suratimin tak lupa memberikan edukasi. Agar pepohonan tetap terjaga.

”Edukasi lewat radio komunitas. Karena lebih mengena. Petani bisa mendengarnya sembari bertani atau mengurus ternak,” kelakarnya.

Meski telah tumbuh tinggi, Suratimin menyadari para petani harus berpuasa lagi. Menunggu ribuan pepohonan itu siap ditebang. Sembari mencari ide produk yang tepat untuk olahan kayu hutan.

”Ketika kayu gelondongan langsung dijual harganya murah,” tuturnya.
Ikhtiar Suratimin membuahkan hasil. Warga menyulap kayu hutan menjadi berbagai produk mebel. Seperti, meja, kursi, hingga lemari. Juga aksesori seperti miniatur radio, kamera, hingga flashdisk. Harga yang dipatok bervariatif. Miniatur kamera, contohnya, Rp 260 ribu.

”Setelah kami hitung, perkiraan satu pohon bisa menghasilkan sekitar Rp 3 juta,” sebutnya.

Kendati perekonomian warga telah terangkat, Suratimin tetap berharap pemerintah memberikan pendampingan. Agar roda perekonomian warga di sekitar hutan rakyat berputar lebih cepat.

Berkat kerja keras itu, Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan Kalpataru kepada Suratimin. Tiga tahun kemudian pria kelahiran 1 Mei 1959 ini kembali menyabet penghargaan. Kali ini dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebagai kader konservasi.

Menurutnya, hutan di Desa Semoyo menghasilkan 15.200 ton karbon per tahun. Perinciannya, per hektare menghasilkan 32 ton karbon per tahun. Karena hitung-hitungan itu pula, puluhan negara ngangsu kaweruh di Desa Semoyo. Mereka belajar menghitung karbon ala warga Desa Semoyo.

”Pada 2016 ada 27 negara. Pada 2017, tujuh negara,” kata Suratimin menyebut China, Malaysia, India, Vietnam pernah belajar di Desa Semoyo. (zam/fn)