JOGJA – Suasana di Klenteng Tjen Ling Kiong Selasa (29/1) siang terasa berbeda. Klenteng yang terletak di Cokrodiningratan, Jetis, Kota Jogja, itu lebih ramai. Beberapa orang tampak serius membersihkan berbagai patung. Yang terletak di setiap sudut bangunan.

”Membersihkan klenteng dan patung sudah menjadi agenda rutin tahunan. Itu untuk menyambut Hari Raya Imlek,” jelas pengurus Klenteng Tjen Ling Kiong, Margo Mulya, 42, di sela membersihkan patung.

DENGAN RITUAL: Pengurus kelenteng membersihkan patung dengan lap. Air yang digunakan juga khusus. Dicampur dengan bunga. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Ya, tempat ibadah yang juga dikenal dengan Klenteng Poncowinatan menjadi jujukan warga Tionghoa. Terutama, saat Hari Raya Imlek. Menurutnya, setiap altar saat Hari Raya Imlek bakal dipenuhi umat Konghucu. Untuk memanjatkan doa. Jadi, agenda membersihkan patung seminggu sebelum Hari Raya Imlek itu bertujuan agar mereka merasa nyaman ketika beribadah. Juga untuk memberikan energi positif bagi siapapun yang berkunjung.

”Juga untuk menghormati para dewa,” ucapnya.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Ada ratusan patung di klenteng yang didominasi warna merah ini. Ukurannya bermacam-macam. Ada yang kecil. Ada pula berukuran besar. Margo mengungkapkan, seluruh patung dibersihkan. Begitu pula dengan altar.

”Juga memperbaiki sisi bangunan jika diperlukan,” ujarnya.

Meski rutin, ada prosesi sebelum membersihkan klenteng. Menurutnya, prosesi dimulai dengan doa. Itu untuk meminta izin. Setelah itu, baru membersihkan patung dan sudut klenteng. Namun, air yang digunakan tak sembarangan. Harus dicampur dengan bunga.

”Agar diberkati Tuhan dan memberikan manfaat bagi umatnya,” kata Margo mengungkapkan, prosesi membersihkan dimulai pagi hari dan berakhir sorenya.

Margo sempat menunjukkan salah satu patung tertua. Bentuknya seperti harimau. Penyimpanan patung ini sudah beberapa kali pindah. Sebelum ditempatkan di Klenteng Tjen Ling Kiong.

”Beruntung sekali patung ini dapat bertahan hingga saat ini,” tambahnya. (cr5/zam/fn)