GUNUNGKIDUL – Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Gunungkidul sejak Minggu (27/1) dini hari menyebabkan tanah longsor. Tepatnya di Pedukuhan Parangan, Desa Semin, Kecamatan Semin dan Pedukuhan Banteng Wareng, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen.

Dari informasi yang diperoleh, longsor di Pedukuhan Parangan terjadi pukul 22.00 Minggu malam. Tebing setinggi 10 meter runtuh. Material longsoran berupa batu dan tanah mengancam dua rumah warga Sunarno dan Jono. Lantaran jarak tebing dengan bagian belakang dua rumah ini hanya beberapa meter.

”Sebelumnya memang hujan seharian,” jelas Sunarno Senin (28/1).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, begitu menerima laporan petugas langsung bergerak menuju lokasi kejadian.

”Hasil pengecekan, penjang longsoran sekitar 20 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter,” katanya.

AMBROL: Pascakejadian, warga gotong royong menyingkirkan material longsoran di belakang rumah milik Repin, 39, warga Padukuhan Banteng Wareng Rt003/001, Desa Tancep. (FOTO BPBD GUNUNGKIDUL FOR RADAR JOGJA)

Proses kerja bakti membersihkan material longsoran melibatkan petugas dengan warga setempat. Edy memastikan dalam kejadian tanah longsor di wilayah ini tidak sampai menelan korban jiwa. Hanya diakui, potensi longsor susulan bisa saja terjadi. Oleh sebab itu, dia mengimbau warga yang tinggal di lereng perbukitan peka dengan tanda-tanda alam.

”Jika hujan lebih dari dua jam, lebih baik mencari tempat aman,” imbaunya.
Seperti di Pedukuhan Parangan, longsor di Pedukuhan Banteng Wareng juga mengancam rumah warga. Tembok rumah milik Repin, 39, dihantam material longsoran.

”Tidak ada korban jiwa maupun luka,” katanya. (gun/zam/fn)