SLEMAN – Penyebaran ujaran kebencian menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2019 semakin marak terjadi. Terutama melalui media sosial (medsos) yang saat ini berkembang sangat pesat.

Keeadaan ini membuat jengah sebagian besar masyarakat. Hal ini karena ujaran kebencian di medsos sangat mudah tersebar dan kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Oleh karena itu saya mewakili masyarakat melaporkan akun-akun itu ke Polda DIJ,” ujar perwakilan dari elemen masyarakat DIJ, Tengku Wahyudi Sapta Putra, di Mapolda DIJ, Senin (28/1).

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Yudi, sapaannya, melaporkan sebanyak 25 akun yang diduga ada muatan ujaran kebencian. Akun itu, sebagian merupakan akun fiktif, maupun akun individu dari golongan tertentu. “Akun itu ada di media Twitter, Facebook, Youtube dan kemungkinan masih bisa berkembang ke akun lain,” bebernya.

Ia menjelaskan, ada tiga poin utama yang membuat akun-akun tersebut dinilai meresahkan. Pertama, konten dalam akun itu memuat berita bohong (hoax). Kedua, ada ujaran kebencian yang menyerang golongan tertentu. Ketiga, konten di dalamnya berisi fitnah.

Dia melihat adanya akun penebar kabar bohong itu akan berdampak pada stabilitas masyarakat DIJ. “Karena itu saya mencoba mengecek kebenaran yang ada dalam akun itu. Dan ternyata bohong, jadi saya laporkan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIJ Eko Suwanto menjelaskan, bukan hanya pemroduksi konten hoax saja yang dipidana. Termasuk juga dengan penyebar konten itu. “Masyarakat seharusnya saring dulu (informasi, Red) sebelum sharing,” ujar Eko.

Ia melihat masyarakat, terutama di DIJ, sebenarnya punya komitmen untuk mewujudkan pemilu yang damai. Namun dalam perjalanannya banyak adu domba dan berita bohong bertebaran. “Ini polanya hampir mirip dengan Pemilu DKI Jakarta,” katanya.

Hoax ini, kata dia, sangat mengganggu stabilitas demokrasi. Dampaknya juga dapat mengoyak keutuhan bangsa. Menurutnya, berbeda pilihan dalam pemilu adalah hal yang biasa. Sebab, Indonesia terdiri dari berpuluh ribu pulau dan suku.

Oleh karenanya, dia mengajak seluruh masyarakat agar menjaga Bhinneka Tunggal Ika dan kerukunan. “Ayo lawan bareng-breng hoax yang merusak sendi-sendi kebangsaan, di mana Jogjakarta adalah kota perjuangan dan kota republik,” pintanya. (har/laz/fn)