Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat. Prinsip ini menjadi motivasi tersendiri bagi Ida Rianawati, guru SMPN 5 Magelang dalam mencari ilmu. Tak pelak, gelar doktor berhasil diraih pengajar mata pelajaran IPA ini.

FRIETQI SURYAWAN, Magelang

Tidak pernah terbayangkan jika seorang siswa SMP harus diajar oleh guru yang bergelar doktor. Tetapi faktanya, itu benar-benar terjadi di SMPN 5. Bagi para siswa kelas VI dan VII, terutama kelas paralel A, B dan C, mereka diajar oleh doktor lulusan Program Pasca-Sarjana Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogya (UNY).

“Iya, kami sekarang diajar Bu Ida Rianawati yang sudah bergelar doktor. Mengajarnya jadi lebih enak untuk dipahami,” ujar salah seorang siswa SMPN 5 bernama Zara, saat ditemui Senin (28/1).

Ida memperoleh gelar doktor setelah lulus dalam Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor Ilmu Pendidikan yang dilaksanakan di Aula Lantai 3 Gedung Kreatif Program Pasca-Sarjana UNY, Rabu (24/1). Ia merupakan doktor lulusan Pasca-Sarjana UNY ke-449 dan Doktor Ilmu Pendidikan ke-88. Ibu tiga anak ini membuat disertasi berjudul ”Implementasi Pendidikan Holistik di SMA Berasrama (Boarding School)” dengan objek penelitian SMAN 10 Malang, Jawa Timur. Diperkenalkan model pendidikan yang berlandaskan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang dipadukan dengan konsep pendidikan versi UNESCO.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Dikatakan, secara konseptual pendidikan holistik abad 21 didefinisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan seluruh potensi individu dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan, demokratis, dan humanis. Itu dilakukan dengan mengintegrasikan 4H yaitu head atau intelektual, heart atau emosional, sosial, dan spiritual, kemudian hand atau keterampilan, dan healty atau kesehatan. “Tentunya melalui interaksi dengan lingkungan dan masyarakat,” tutur Ida.

Menurutnya, pendidikan holistik abad 21 yang diimplementasikan di sekolah berasrama bertujuan agar membentuk anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, sehat dan terampil. Juga memiliki jiwa kepemimpinan, berwawasan internasional, dan bermoral Pancasila. Selain itu, juga memiliki keterampilan abad 21 yang siap menghadapi tantangan global.

“Saya harap hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan bagi guru yang ingin menerapkan konsep pendidikan holistik di SMA berasrama maupun dan nonasrama,” ujar Ida.

Konsep pendidikan holistik abad 21 itu didasarkan pada program “Aleye”. Yakni academic, leadership program, extracurriculer atau learning to live, youth entrepreneurship program dan environment caring. Program ini direkomendasikan untuk dapat diimplementasikan di berbagai daerah sebagai model sekolah berasrama.

“Konsep ini semoga dapat dijadikan pertimbangan kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bahkan kepala daerah, untuk menentukan arah kebijakan implementasi pendidikan holistik masa depan. Sebab dengan demikian, education for all atau EFA dapat dilaksanakan dengan baik,” jelasnya.

Ida lalu menceritakan hambatan untuk meraih gelar doktor. Salah satunya, kesibukan mengajar sekaligus menjadi ibu rumah tangga, yang menyulitkannya untuk merampungkan kuliahnya tepat waktu. Agak sedikit terlambat lulus, tetapi akhirnya bisa meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) bagus yakni 3,78.

“Sebenarnya di semester 4 saya sudah menyelesaikan semua SKS. Sudah ujian komprehensif dan penelitian. Tetapi karena kesibukan saya di keluarga, terpaksa saya menundanya,” ungkapnya.

Kesibukan lain, Ida harus mengikuti lomba guru berprestasi dengan syarat harus membuat karya ilmiah. Ia pun harus meluangkan waktu guna meneliti, sehingga kuliahnya kadang tak terurus.

”Alhamdulillah saya sekarang sudah lulus. Meskipun dengan aktivitas padat, saya tetap bisa mengatur waktu sebagai guru dan juga sebagai peserta didik, tanpa mengabaikan peran saya sebagai seorang ibu,” ujarnya.

Ida adalah guru SMP kedua di Kota Magelang yang bergelar doktor. Ia ingin memotivasi diri sendiri dan anak didiknya bahwa menuntut ilmu tidak mengenal usia. Minimal bisa memberikan contoh kepada anak-anak didik tentang pentingnya pendidikan.

“Anak didik akan berwawasan luas jika gurunya juga mempunyai wawasan luas. Saya memang ingin meningkatkan kapasitas, kapasitas diri sebagai seorang guru kan tidak cukup hanya belajar dengan ilmu-ilmu yang sudah lalu,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Taufiq Nurbakin mengaku bangga dengan motivasi belajar guru-guru di wilayahnya. Ida Rianawati menjadi salah satu guru yang mampu memberikan semangat kepada semua guru agar tidak cepat puas dengan ilmu yang didapatkan.

“Bu Ida ini melengkapi guru SMP di Kota Magelang yang bergelar doktor, setelah setahun lalu guru Bahasa Inggris SMPN 7 Magelang Siti Zulaekha meraih gelar doktor untuk yang pertama di Kota Magelang,” ungkapnya.
Dia berharap, ke depan muncul guru-guru baru bergelar doktor, meski hanya mengajar tingkat SD dan SMP. Sebab, ia menilai bahwa ilmu yang dimiliki tidak akan pernah sia-sia.

“Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Apalagi sebagai seorang guru, memang harus terus belajar, mengembangkan bagaimana mendidik dengan benar, punya kompetensi dan kemampuan sebagai penggerak generasi muda yang kelak akan menjadi penopang bangsa di masa depan,” tandasnya. (laz/fn)