Eka lantas ingin bisnis minyak goreng. Dia sudah tahu di mana pusat penghasil minyak goreng: Selayar. Sebuah pulau di Selatan Sulawesi. Perlu naik kapal satu malam penuh untuk ke sana.

Dia pun berangkat. Semua tabungan dibawa. Diikatkan di pinggang secara merata. Dia tahu tidak bisa beli secara utang. Harus kontan.

Di Selayar dia bisa kulakan 4.000 kaleng minyak goreng. Satu kalengnya 18 liter. Dia mendapat diskon 20 persen. Karena membayar kontan.
Dia mabuk. Tidak mampu berdiri.

Pun waktu kapal sudah tiba kembali di pelabuhan Makassar. Dia harus pegangan tiang listrik dulu. Lama. Sebelum bisa berjalan tegak. “Mabuk tapi hati sangat gembira. Semangat sekali,” katanya.

Baru beberapa hari di Makassar keluarlah peraturan pemerintah Jepang. Penjualan minyak goreng hanya boleh dilakukan pihak Jepang. Milik swasta harus diserahkan. Dengan harga dipatok. Rp 1,5/liter.

Eka Tjipta, yang waktu itu namanya masih Ek Tjhong, bangkrut untuk kedua kalinya.

Masih muda sudah merasakan ‘jatuh’ dua kali.

Hidup pun susah. Untuk semua orang. Berbulan-bulan tidak makan roti. Bukan tidak punya uang, tapi sulit mendapatkan roti. Beli roti harus antre. Satu orang dibatasi maksimal dua roti.

Hari itu dia sangat ingin beli roti. Dia antre. Beli dua. Tapi hanya diberi satu. Dia marah.

Tetap tidak diberi. Dia lemparkan roti yang di tangannya ke muka penjualnya.
Dia ngeloyor pulang. Hatinya mendidih. Dendam. Tekadnya bulat: ingin bikin pabrik roti.

Berhari-hari dia cari tahu: siapa juru masak pabrik roti itu. Dia datangi rumahnya. Dia bawakan oleh-oleh untuk istrinya. “Kalau saya tidak bawakan oleh-oleh bisa-bisa tidak boleh masuk rumahnya,” katanya bergurau.

Langsung dia tawarkan gaji dua kali lipat. Dari Rp 15 ribu sebulan ke Rp 30 ribu. Tawaran diterima dengan senang. Tapi baru bisa bulan berikutnya. Dia tidak mau kehilangan gaji sebulan itu.

Eka tidak sabar. Dendamnya masih membara. Langsung saja dikeluarkan jurus pamungkasnya: dia bayar gaji yang sebulan itu.
Pabrik rotinya maju. Tapi sulit mendapatkan gula.
Beli gula harus antre. Satu orang hanya boleh antre untuk 1 kg.

Eka mencari pengantre bayaran. Tujuh orang. Satu bulan bisa mendapat 10 ton. Eka pun merinci. Berarti satu orang antre di 40 tempat sehari.

Eka menjadi kaya kembali. Dia berani membeli mobil. Rp 70 ribu harganya. Tapi harus inden. Mobilnya baru tiba enam bulan kemudian.

Saat itulah temannya kesusahan. Perlu uang. Menyerahkan mobilnya. Hanya dengan harga Rp 30 ribu. Jadilah Eka punya dua mobil. Menjadi orang yang sangat terpandang.

Waktu meninjau bekas sekolahnya dulu sang kepala sekolah sendiri yang membukakan pintu mobilnya. Eka banyak menyumbang ke sekolah itu.
Lalu terjadilah perang kemerdekaan. Keadaan kacau. Jalur logistik putus.

Pasokan bahan baku macet. Eka bangkrut lagi. Untuk ketiga kalinya.
Sekali lagi Eka tidak mau meninggalkan utang. Dia sangat yakin kepercayaan adalah modal terpenting. Dengan kepercayaan dia yakin pasti bisa bangkit lagi. Kelak.

Dia jual yang bisa dijual cepat. Termasuk dua mobil kebanggaannya. Dia kembali naik sepeda.

Saat bangkrut yang ketiga itulah Eka merasa sangat sakit. Bukan soal hidup susah lagi. Tapi soal harga diri. Orang yang dulu membukakan pintu mobilnya pun tidak mau menyapanya lagi. Bahkan melengos saat disapa. Dia sampai malu keliling Makassar dengan sepedanya. Dia merasa semua jari menuding ke mukanya.

Eka tidak tahan lagi. Dirinya merasa terhina. Dia pun minggat dari Makassar. Menuju Malino. Daerah pegunungan sekitar 60 km dari Makassar. Dia menghabiskan waktu di situ. Dengan membaca. Dia memang gemar membaca.
Enam bulan Eka retreat di Malino. Barulah hatinya dingin. Dia kembali ke Makassar. Ingin mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

Waktu itu, awal 1950, TNI mengerahkan banyak pasukan ke Makassar. Untuk menumpas pemberontakan Andi Aziz. Dan Kahar Muzakar. Tentara kekurangan logistik. Para pedagang tidak mau menjadi pemasok. Khawatir pembayarannya macet.

Eka mendengar itu. Mau. Satu-satunya yang mau jadi pemasok. Dia punya logika sendiri. “Ini kan tentaranya pemerintah. Pemerintah sendiri. Sudah merdeka. Pasti punya uang. Kalau pun tidak kan bisa cetak uang. Kan negaranya sendiri,” pikirnya.

Eka kembali akan mengandalkan kepercayaan. Sebagai modal utamanya. Dia datangi perusahaan dagang negara. Peninggalan Belanda. Seperti Geowehry. Dia minta barang. Bayar belakangan. Minta waktu dua minggu. Seperti pembayaran yang dijanjikan tentara.

Ternyata dua minggu tidak ada pembayaran. Satu bulan tidak ada. Satu bulan setengah juga tidak. Eka datang ke Geowehry. Minta maaf. Menceritakan apa adanya. Membawa semua berkas dan tagihan. Dia ceritakan apa adanya. Tidak ada yang disembunyikan.

Setelah lewat dua bulan pembayaran cair. Sekaligus. Banyak sekali. Eka menjadi banyak uang lagi. Utangnya pun lunas.

Eka menjadi akrab dengan tentara. Tentara juga begitu. Merasa Eka orang yang berjasa. Kesempatan pun terbuka. Eka boleh memanfaatkan kapal tentara. Yang pulang ke Makassar dalam keadaan kosong. Setelah mengirim tentara ke Manado.

Eka pun memuatinya dengan kopra. Yang melimpah di Manado. Dengan harga murah. Dia jual di Makassar. Dengan harga tinggi.

Jadilah Eka pedagang kopra. Dia sering pergi ke Manado, Palu, Toli-toli, dan Maluku. Pusat-pusat kopra dia kuasai.

Dia pun sudah berani carter kapal. Untuk kirim kopra dari Manado ke Surabaya dan Jakarta. Jaringan dagangnya kian luas.

Suatu saat dia sudah mengumpulkan 3 ribu ton kopra di Manado. Dia carter kapal besar dari Jakarta. Untuk ukuran saat itu.

Ketika kapal tiba pecahlah pemberontakan Permesta. Terjadi perang. Eka menyelamatkan diri. Kopra 3 ribu ton dia tinggal. Kapal carterannya kembali ke Surabaya hanya membawa dirinya.
Eka bangkrut untuk keempat kalinya.

Dia tidak mau lagi tinggal di Makassar. Dia ingin pindah Surabaya. Di daerah yang lebih aman. Yang memungkinkan bisnis berkembang.

Di Surabaya Eka ditampung di kamar temannya. Ukuran 2 x 3 meter persegi. Dia hanya membawa modal kepercayaan. Dan nama baik.

Dia pun menghadap Pangdam Brawijaya Mayjen Basuki Rahmat. Diizinkan pula mengisi kapal tentara dengan barang dagangannya. Kapal itu berangkat ke Sulawesi membawa bahan makanan. Balik ke Surabaya kosong. Hasilnya dibagi dua: tentara mendapat 25 persennya.

Di Surabayalah Eka berkembang pesat. Dengan pabrik minyak kelapanya. Dari Surabaya merambah Indonesia. Tidak pernah bangkrut lagi.

Waktu saya berumur 40 tahun saya bertanya pada Pak Eka: Apakah masih membayangkan bahwa suatu saat akan bangkrut lagi. Untuk kelima kalinya.
“Sekarang sudah tidak mungkin lagi bangkrut. Sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut,” katanya.

Itu tahun 1992. Diucapkan di Surabaya. Kepada saya.

Saat itu Pak Eka sudah menjadi orang terkaya kedua di Indonesia. Setelah Liem Soe Liong. Pabrik minyak gorengnya sudah yang terbesar di Indonesia. Pabrik kertasnya terbesar di Asia. Bisnis Grup Sinar Mas sudah merambah ke segala arah.

Saya pernah ke Ningbo. Sudah ada Bank International Ningbo. Miliknya. Saya ke Suzhou. Sudah ada pabrik kertas sangat besar di sana. Saya ke Shanghai. Gedung pencakar langitnya sangat menonjol di pusat kota Shanghai.

Waktu mengucapkan ‘tidak mungkin lagi bangkrut’ kelihatannya Pak Eka tidak membayangkan: bakal terjadi krisis moneter delapan tahun kemudian. Saat itu utang Sinar Mas mencapai sekitar Rp 110 triliun. Kepada lebih 60 bank. Di lebih 40 negara.

Yang menagih pun sampai kesulitan. Untuk berunding pun sulit. 60 bank dan 40 negara harus setuju. Caranya maupun pembagian hasil penagihannya.

Sampai-sampai utang itu distensil. Dibekukan. Ini membuat Sinar Mas kembali jaya. Semua hasil penjualannya bisa untuk menggerakkan operasionalnya. Tanpa mikir nyicil utang.

Memang Sinar Mas sempat kehilangan Bank International Indonesia. Tapi Pak Eka benar: sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut.

Sabtu lalu Pak Eka meninggal dunia. Meninggalkan semua itu. Tapi juga meninggalkan pelajaran bisnis yang luar biasa berharga. (yog/fn)