SLEMAN – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berharap sekolah bisa menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Termasuk di sekolah kluster yang mengembangkan sekolah lainnya di sekitarnya.

“Sehingga anak-anak betah di sekolah. Serasa memiliki rumah kedua,” ujar Muhadjir di sela peresmian SD Muhammdiyah Condongcatur sebagai sekolah induk kluster Minggu (27/1).

Menurut dia seharusnya sekolah bisa menjadi sarana untuk tukar ide, kreativitas, dan keterampilan para guru. Itu agar mampu menciptakan suasana sekolah yang nyaman. Dia pun mengapresiasi penerapan sekolah kluster tersebut. “Ya ini kan salah satu cara yang dilakukan oleh lembaga majelis pendidikan Muhammadiyah untuk mengembangkan sekolah-sekolah yang ada di lingkungan tersebut,” jelasnya.

Model sekolah kluster pada dasarnya berbentuk pembinaan. Pembinaan itu dilakukan dengan cara kolaborasi antara sekolah-sekolah besar dengan sekolah-sekolah kecil. Sekolah besar yang dimaksud merupakan sekolah unggulan yang telah melampui standar. Baik secara kualitas pendidikan hingga manajemen.

Melalui model tersebut, mantan Rektor UMM itu berharap sekolah-sekolah kecil bisa didorong dan diperkuat kolaborasi. Baik melalui tukar pengalaman ataupun timbal balik, untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PDM Sleman Suwadi menambahkan penunjukkan sekolah pembina itu dilihat dari standar pendidikan yang sudah bagus.  “Dia (SD Muhammadiyah Condongcatur) punya tugas untuk membantu sekolah-sekolah yang standar pendidikannya belum tercapai,” paparnya.

Menurut dia, pada dasarnya semua sekolah memiliki kemampuan untuk berkembang. Tetapi prosesnya bisa dipercepat melalui pembinaan tersebut.  “Jadi sekolah-sekolah besar merangkul sekolah-sekolah kecil untuk dilakukan pendistribusian,” kata Suwadi.

Pada dasarnya, peraturan terkait model sekolah kluster sudah ada sejak 2013. Namun, di DIJ belum ada sekolah yang menerapkannya. Sehingga SD Muhammadiyah Condongcatur menjadi sekolah pertama yang mencoba mengaplikasikan model tersebut.

Melalui model sekolah kluster tersebut, Suwadi ingin tiap lembaga pendidikan bisa saling mengisi, membutuhkan, serta mengembangkan rasa tepa slira. “Bentuk pembinaan dan kolaborasi meliputi pertukaran pengajar, kurikulum, pengelolaan, hingga keuangan,” tuturnya.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Condongcatur Sulasmi SPd mengatakan, sekolah kluster itu turut memajukan pendidikan di DIJ. Khususnya sekolah-sekolah dengan visi yang, dalam hal itu Muhammadiyah. “Kalau dirangkul dengan cara kluster ini kan paling tidak ditingkatkan pula motivasi pendidikan secara bersama-sama,” tuturnya.  (cr9/pra/tif)