Sejak 2007 lalu, pasar hewan Pakuncen Wirobrajan sudah pindah ke Ambarketawang, Gamping. Sekarang lokasinya menjadi Pasar Klitikan Pakuncen. Tapi sisa-sisa pasar hewan masih ada di sana. Tinggal tersisa asrama untuk sapi. Asrama?

IWAN NURWANTO, JOGJA

Panas terik di kawasan Pasar Klitikan Pakuncen seketika hilang begitu bergerak ke sisi timur pasar. Berada di pinggir sungai Winanga dengan rimbun pepohonan bambu. Di sana terdapat ‘asrama’ untuk sapi. Ya, tidak hanya manusia saja yang butuh fasilitas asrama. Ternyata hewan yang sering menemani petani dan sering dijadikan hewan kurban ini butuh penginapan juga.

Di Kota Jogja para sapi punya asrama. Tempat tersebut diberi nama Asrama Sapi Segar. Dan lokasinya ternyata berada di balik keramaian kota Jogja, tepatnya persis di belakang pasar Klithikan Pakuncen.
“Disini juga menerima penitipan kerbau dan kambing. Kalau ada onta yang mau di-titipin sini bisa juga,” ujar pemilik asrama Sapi Segar, Jordan Dea Pratama kepada Radar Jogja Minggu (27/1).

Jordan, pemilik Asrama Sapi “Segar” yang menjadi tempat transit para penjual sapi dari luar wilayah DIJ (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

Sebelum sapi dibawa ke pasar, beberapa penjual atau biasa disebut blanthik sering datang ke asrama untuk menitipkan barang dagangannya. Ya sapi-sapi tersebut akan di kost-kan terlebih dahulu sebelum ditawarkan ke pembeli. “Biasanya para pedagang sapi menitipkan sapinya selam satu sampai dua hari,” tuturnya.

Sedangkan untuk jumlah sapi yang dititipkan oleh para penjual tersebut, Jordan mengatakan untuk satu orang dapat menitip dua hingga tiga ekor sapi. Dan jumlah penyewa tersebut akan bertambah seiring dengan dekatnya pasaran hewan. Biasanya mereka menitipkan para sapinya menjelang pasaran pada penanggalan Jawa, tiap Pahing. “Apalagi pas Idul Adha. Biasanya penitipan sini ramai,” imbuhnya.

Untuk kapasitas, asrama sapi ini mampu menampung sebanyak 125 ekor hewan. Masalah pakan, Jordan mengatakan para pemilik tidak perlu khawatir. Setiap harinya asrama ini mendapat suplai dari para pencari rumput setiap harinya.”Kebersihan kandang juga kami pastikan terjaga,” katanya.

Untuk para langganannya, Jordan mengatakan ada yang berasal dari Wonosari, Prambanan hingga Muntilan. Mereka memilih menitipkan sapinya karena para penjual yang berasal dari luar Jogjakarta ini sering tidak kebagian tempat dipasar hewan yang berada di Ambarketawang. Selain itu fasilitas di asrama juga terhitung lengkap. Seperti ada tempat peneduhan sapi. Juga penjagaan 24 jam serta makanan yang selalu tersedia. “Beda jika sapi ini ditinggal di pasar hewan,” ujarnya.

Selain itu di asrama juga terdapat satu pendopo yang berukuran besar lengkap. Dengan kursi dan tikar untuk rebahan. Fugsinya sebagai tempat para penjaga ketika malam hari. “Untuk tempat istirahat,” jelasnya.

Untuk tarif, Jordan tidak pernah mematok harga pasti. Namun biasanya para pemilik sapi membayar Rp 40 ribu per ekornya. Biaya tersebut untuk jasa transit sapi selama satu hari satu malam termasuk makan.

Jordan mengisahkan, sebelum menjadi pasar yang menjual berbagai macam baju dan asesoris motor, dulunya Pasar Klithikan adalah pasar hewan. Didalamnya menjual berbagai jenis hewan potong seperti sapi dan kambing, selain itu pasar tersebut juga menjual berbagai perlengkapan pertanian.
Bersamaan dengan beralihnya menjadi pasar klitikan, dibangun pula asrama sapi tersebut. Dulunya ayah Jordan juga merupakan penjual sapi di pasar hewan kuncen.

Seiring dengan bergantinya fungsi pasar, kemudian ayahnya membangun asrama tersebut. Itu didasari karena keluarga Jordan merupakan warga belakang pasar Kuncen. “Keinginannya membuat kandang yang berada dekat dengan tempat tinggal,” jelas dia. (pra/tif)