Harus Bisa ”Menyentuh” Satwa, tapi Tak Boleh Dekat
Hewan bisa trauma. Juga bisa kehilangan naluri kehewanannya. Wildfire Rescue Centre Jogja berperan menghilangkan trauma sekaligus mengembalikan naluri aslinya.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

TAHUKAH Anda bahwa satwa yang dilepasliarkan kembali ternyata pernah stres lama. Ada pula yang sempat kehilangan naluri kehewanannya. Bahkan, sebagian ada yang cacat atau terluka. Itulah kondisi sebagian satwa saat diserahkan ke Taman Satwa Wildfire Rescue Centre (WRC) Jogja.

”Kondisinya memang beragam,” tutur drh Irhamna Putri Rahmawati menceritakan kondisi berbagai satwa yang dirawatnya.

Taman satwa yang terletak di Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, tersebut saat ini merawat 157 ekor satwa. Sebanyak 68 ekor di antaranya berupa burung. Seperti elang, nuri, hingga kakaktua. 52 ekor lagi berupa aneka jenis reptil. Mulai kura-kura hingga buaya. Sisanya mamalia langka. Misalnya, beruang madu, beruk, rusa sambar, tupai tiga warna, dan monyet ekor panjang.

”Mayoritas dari hasil sitaan BKSDA (balai konservasi sumber daya alam), NGO (non-government organization/lembaga swadaya masyarakat), dan instansi terkait,” tuturnya.

Dari berbagai latar belakang itulah, perempuan yang menjabat manajer konservasi WRC Jogja ini harus telaten. Merawat dengan penuh ekstra kasih sayang. Sebab, menjadi dokter hewan di WRC tidak seperti ahli medis pada umumnya. Perempuan berjilbab ini sehari-hari tidak sekadar merawat. Melainkan juga harus bisa ”menyentuhnya”. Tapi, tanpa dengan kedekatan.
”Untuk mengembalikan nalurinya memang seperti itu caranya. Susah, kan? Rehabilitasi juga membutuhkan waktu,” ucapnya.

Maklum, berbagai satwa itu diserahkan ke WRC dengan kondisi trauma. Ada yang disebabkan terlalu lama menjadi peliharaan. Bahkan, ada yang terluka atau cacat karena perburuan ilegal. Seperti elang ular bido jantan dan elang alap jambul yang dilepasliarkan WRC Jumat (25/1). Elang ular bido, contohnya. Satwa hasil sitaan Polsek Kalibawang ini menjalani rehabilitasi sejak 2011. Sedangkan satwa sitaan Polda Jawa Timur bersama Centre for Orangutan Protector menjalani rehabilitasi sekitar dua tahun.

”Sebelum dilepasliarkan dan mampu bertahan di alam bebas, hewan-hewan ini juga perlu terpenuhi semua kebutuhannya. Baik asupan makanan maupun tempat konservasinya,” katanya.

Meski asyik dengan aktivitasnya saat ini, perempuan 30 Mei 1992 tersebut tak pernah bermimpi menjadi dokter hewan. Namun, garis hidupnya berkata lain. Selepas SMA, dokter Irna, sapaannya, kecemplung di fakultas kedokteran hewan. Telanjur basah, dia kemudian menempuh strata dua di Universitas of Brsitol United Kingdom.

Menurutnya, WRC merupakan lembaga non-profit dan non-pemerintah yang bergerak di bidang konservasi satwa liar. Memiliki kegiatan utama penyelamatan, rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, dan sosialisasi mengenai satwa liar.

WRC Jogja memiliki produk jasa. Seperti penyewaan ruang meeting, outbound, high rope games, dan program pendidikan konservasi. Yang menarik, seluruh keuntungan digunakan untuk program rehabilitasi satwa liar di WRC.

”Artinya untuk kesejahteraan satwa cukup tergantung dengan pembiayaan,” ujarnya.

Dokter yang tinggal di Demangan Jogjakarta ini berharap, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap satwa liar dilindungi semakin tinggi. Sehingga satwa langka yang kini ada masih bisa bertahan dan tidak punah. (zam/fn)