KULONPROGO – Sastro dan Gayatri akhirnya bisa menghirup udara di alam bebas Jumat (25/1). Setelah menjalani rehabilitasi di Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja. Sastro direhabilitasi lembaga di bawah naungan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta itu sejak 2011. Sedangkan Gayatri lebih singkat. Tak lebih dari dua tahun.

”Keduanya sudah melalui proses rehabilitasi untuk mengembalikan sifat liar atau alaminya,” jelas Manajer Konservasi WRC Jogja drh Irhamna Putri Rahmawati.

Yang dimaksud dengan Sastro dan Gayatri di sini bukanlah nama seseorang. Melainkan nama dua satwa dilindungi. Sastro adalah nama elang ular bido (spilornis cheela) berkelamin jantan. Sementara, Gayatri nama untuk elang alap jambul (sccipiter cheela) betina.

”Sastro sitaan Polsek Kalibawang pada 2012. Sedangkan Gayatri diserahkan Polda Jawa Timur pada 2017,” ucapnya.

Berdasar pemeriksaan dan pemantuan harian, Dokter Irna, sapaan Irhamna Putri Rahmawati, memastikan, kedua burung predator itu sudah laik untuk dilepasliarkan. Kedua satwa tersebut juga dalam kondisi sehat. Sebab, WRC telah melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium sebelum melepasliarkan.
”Perilaku hariannya sudah menunjukkan bahwa kedua ekor elang ini sudah bisa survive (mencari makan sendiri, Red),” jelasnya.

UNTUK MONITORING: Petugas WRC memasang penanda berupa cincin dan wing marker di kaki elang ular bido. (DOKUMEN PRIBADI)

Kendati begitu, WRC tetap memasang alat penanda di tubuh dua burung ini. Agar WRC dapat memantau.

Terkait pelepasan di area WRC, Dokter Irna beralasan karena sejumlah pertimbangan. Di antaranya, sumber makanan yang melimpah dan tidak ada pemangsa dua burung ini di area WRC.

”Masyarakat sekitar juga sudah disosialisasi agar tidak melakukan perburuan,” ucapnya.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta Junita Parjanti mengapresiasi kerja sama lintas lembaga konservasi di DIJ. Terutama dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Termasuk di antaranya Sastro dan Gayatri.

”Mereka dilindungi Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem serta Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Sebelum dilepasliarkan, keduanya dipasang cincin dan wing marker untuk mempermudah proses monitoring,” ucapnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA DIJ Untung Suripto menambahkan, pelepasliaran bertujuan untuk mengembalikan satwa sitaan ke habitat aslinya. Dari 157 yang direhabilitasi, sebanyak 17 ekor satwa di antaranya dilepasliarkan pada 2018.

”Kami berharap tahun ini ada satwa lagi yang akan dikembalikan ke habitat aslinya,” katanya. (tom/zam/fn)