JOGJA – Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jogjakarta Dessy Wulandari beberapa kali mengingatkan para pengunjung sidang untuk tetap tenang. Itu karena dalam sidang lanjutan gugatan Ketua Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM) kepada Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ Kamis (24/1), pengunjung menyoraki saksi.

Terutama saat saksi yang diajukan Ketua PPM Budhi Susilo alias Cuncun, Sudi Murbintoro memberikan keterangan adanya praktek jual beli lapak PKL di Malioboro. “Ada kasus jual beli lapak termasuk di depan toko saya, karena penjualnya berganti-ganti. Awalnya jual buku, lalu ganti orang Madura menjual batik, sekarang ganti lagi. Tapi saya tidak melihat langsung transaksinya,” tuturnya.

Sontak hal tersebut mendapat gunjingan dari para pengunjung sidang yang mayoritas adalah komunitas PKL kawasan Malioboro. Suasana sidang berubah menjadi riuh karena teriakan bernuansa ejekan dilontarkan oleh pengunjung sidang.

Awalnya saat kuasa hukum Pemkot Jogja, Rahmat S Sokonagoro mempertanyakan keaslian kejadian terkait jual beli lahan yang dilakukan oleh PKL. Dalam persidangan kemarin Rahmat mempertanyakan apakah saksi melihat langsung transasksi jual beli tersebut.

Sayangnya, dugaan Sudi hanya berdasar dari berganti-gantinya pedagang yang ada di depan tokonya tanpa seizin dari pihaknya. Tanpa mau bersaksi bahwa dia melihat langsung maupun menunjukkan bukti.

Sudi yang juga merupakan anggota dari PPM dan sudah menjadi pengusaha Malioboro sejak 1993. Dalam kesaksiannya Sudi mengatakan dia juga merasa dirugikan dengan kehadiran PKL di kawasan Malioboro.”Adanya PKL ini nyatanya menutupi jalan toko saya. Bahkan untuk masuk saya pun sulit,”ujarnya.

Menurut dia, kehadiran para PKL yang ada di depan toko Kerajinan Indonesia miliknya juga turut mengurangi pendapatan tokonya . Selain itu dia mengaku juga mendapat intimidasi oleh oknum PKL terkait kesaksiannya Kamis (24/1).

Dari pantauan Radar Jogja, kehadiran para pengunjung yang mengatasnamakan gabungan komunitas kawasan Malioboro lebih banyak dari pada sidang sebelumnya. Selain itu, para pedagang juga terlihat mengarahkan tatapannya ke arah saksi yang dibawa Cuncun, dari balik jendela ruang sidang.

Kehadiran PKL dalam sidang sempat dipermasalahkan oleh Cuncun, di sela sidang Cuncun keberatan dengan kehadiran para PKL tersebut. Menurutnya para pengunjung sidang tidak punya kapasitas untuk datang ke agenda persidangan dan justru malah menganggu. “Seharusnya yang datang ke sidang yang memiliki keperluan saja. Tidak perlu sebanyak ini, terkesan malah menganggu,” ketusnya.

Namun, majelis hakim menjelaskan bahwa sidang adalah sidang terbuka dan dapat dihadiri oleh siapapun. Dengan syarat pengunjung tetap menghormati jalannya sidang. Setelah saksi selesai mengutarakan kesaksiannya, sidang kemudian ditutup dan akan dilanjut pada senin, 28 Januari mendatang.
Sementara itu Ketua Paguyuban Tridharma Paul Zulkarnaen mengatakan tetap konsisten mendukung pihak termohon. Menurut dia gugatan yang dilayangkan oleh Cuncun akan berdampak pada nasib pedagang dan wajah Malioboro kedepannya.

Terkait dengan kesaksian Sudi, Paul menganggap saksi yang dibawa Cuncun tidak mengetahui inti masalah. Menurut dia kehadiran PKL ini juga sudah mendapat pengakuan dari Wali Kota dan Gubernur sebelum saksi menjadi pengusaha. “Tidharma sudah berdiri sejak 1982, dia (saksi) baru berdagang 1993. Dia tidak tahu sejarah dan budaya di Malioboro,” tegasnya.

Paul yang mewakili para pedagang kaki lima lain, juga mengungkapkan akan tetap teguh pada pendirian yaitu mau ditata tapi tidak mau digusur. Paul mengklaim bahwa kehadiran para PKL ini, sudah menjadi ikon kawasan Malioboro sejak dahulu kala.”Bahkan Malioboro dan PKL-nya ini sudah diakui sebagai objek wisata nasional,” ujarnya. (cr5/pra/fn)