CARLOS Ghosn tidak pernah pindah-pindah. Selama 18 tahun penuh dia bekerja di Michelin. Sampai menjadi pimpinan Michelin tertinggi di Amerika Latin. Yang kantornya di Rio de Janeiro. Di kota masa kanak-kanaknya.

Lalu pindah menjadi pimpinan Michelin di Amerika dan Kanada. Di dua benua itu Ghosn bikin lompatan besar. Termasuk membeli pabrik ban Amerika: Uniroyal Goodrich Company.

Akhirnya Ghosn ditarik ke kantor pusat di Paris: menjadi direktur operasi Michelin Holding. Saat umurnya baru 40 tahun.

Saat itu perusahaan mobil terbesar Prancis lagi bermasalah: Renault. Kalah dengan mobil Jerman: BMW, VW, dan Mercy. Kalah juga dengan mobil Itali: Fiat.

Renault dalam kesulitan besar. Nyaris bangkrut.

Presiden Renault tertarik pada direktur Michelin yang masih muda itu. Direkrutlah Carlos Ghosn. Menjadi wakilnya. Dengan wewenang luas.

Saat itulah Ghosn melakukan banyak hal: mengubah organisasi perusahaan. Menjadi lebih ramping. Menyederhanakan proses produksi. Menstandarkan onderdil. Biaya-biaya tidak perlu dihapus. Dia mendapat gelar ‘Mr Cut Cost’.
Intinya Carlos Ghosn berhasil menyelamatkan Renault. Sampai mampu membeli Nissan.

Dan memimpin sendiri Nissan. Sampai berhasil. Bahkan bisa membeli Mitsubishi.

Satu lagi: Ghosn meletakkan dasar masa depan Nissan. Yakni mobil listrik. Nissan menjadi pelopor mobil listrik di Jepang. Dengan Nissan Leafnya. Dia merencanakan itulah saatnya Nissan akan mengalahkan Toyota. Di masa depan. Melalui mobil listriknya. Yang dia beri anggaran Rp 70 triliun.

Begitu istimewa kepemimpinannya di Nissan. Sampai mampu merebut pasar. Dan merebut hati rakyat Jepang.

Yang tidak berhasil saya temukan adalah: mengapa dia memutuskan mundur dari jabatan CEO Nissan. Di tahun 2017 lalu. Tinggal mempertahankan jabatan Chairman.

Ini menimbulkan spekulasi yang sangat ramai. Tidak cukup ada alasan pengunduran dirinya itu.

Yang jelas jabatan CEO Nissan berikutnya di tangan orang Jepang sendiri: Hiroto Saikawa. Satu tahun lebih tua dari Ghosn.

Tidak banyak yang bisa diketahui siapa Saikawa. Kecuali bahwa dia orang dalam Nissan. Lulusan Universitas Tokyo. Studi ekonomi.

Berarti Saikawa adalah kolega Ghosn sendiri.

Setahun di tangan Saikawa penjualan Nissan merosot. Sebagai Chairman Carlos Ghosn ke Tokyo. Mengadakan rapat. Konon di rapat itulah Ghosn mengeluarkan kata-kata: akan mengganti Saikawa.

Tidak sampai sebulan setelah rapat itu laporan masuk ke pihak berwajib: Carlos Ghosn melakukan tindak pidana. Melaporkan bonusnya lebih kecil dibanding yang diterima. Untuk mengurangi pajak.

Ghosn dipanggil pihak berwajib. Saat itu dia lagi berada di Lebanon. Dia merasa tidak bersalah. Dia berniat memenuhi panggilan itu. Akan menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Menurut versinya.

Hari itu tanggal 19 November 2018. Ghosn terbang dari Beirut. Ke Tokyo. Dengan private jet.

Setiba di Bandara Haneda ternyata dia langsung ditangkap. Dimasukkan tahanan.

Tidak ada perlakuan khusus. Juga tidak ada pembelaan dari perusahaannya. Bahkan beberapa hari kemudian Ghosn diberhentikan pula. Dari jabatannya yang tersisa: Chairman.

Hanya Renault yang terus membelanya. Pun seandainya Ghosn bisa ditahan luar, semua jabatannya di Renault akan aman. Tapi Carlos Ghosn terus ditahan. Terpaksa Renault mencari penggantinya. Ghosn tidak bisa membuat putusan dari dalam tahanan.

Hanya pejabat kedutaan Lebanon dan Prancis yang boleh menengok. Dan pengacaranya. Istrinya pun tidak bisa. Juga anak-anaknya.

Sang istri tetap tinggal di Paris. Namanya: Carole Nahas. Umur 52 tahun. Berarti 12 tahun lebih muda dari sang suami.

Carole memang istri kedua. Yang dikawininya tahun 2016 lalu. Saat Ghosn masih menjabat CEO sekaligus Chairman Nissan.

Pesta kawinnya besar-besaran. Tempatnya di Istana Versailles, Paris. Sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-50 sang kekasih.

Istri pertamanya diceraikan enam tahun sebelumnya: Rita. Setelah memberinya empat anak. Salah satunya ngetop: Caroline Ghosn. Anak tertua. Saat masih berumur 19 tahun Caroline terpilih masuk Bal Des Debutantes. Yakni pesta terelite di Paris. Yang pesertanya dipilih oleh sebuah komite. Tiap tahun hanya 20 orang. Yang saratnya ketat: harus cantik, harus putri orang terkaya yang populer, harus cerdas luar biasa, pandai dansa, dan ayahnya harus mau menemani putrinya selama pesta. Seperti yang tahun lalu dialami Annabel. Putri pendiri dan pemilik Huawei.

Kayaknya Annabel kalah cantik dengan Caroline. Mungkin saya terpengaruh oleh kunjungan saya ke Lebanon bulan lalu. Caroline adalah orang Lebanon. Yang terkenal cantik-cantik itu. Dan dia lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik dunia: Stanford University.

Sekarang Caroline menjadi CEO perusahaannya sendiri: Levo. Yang bergerak di bidang professional networking. Yang membernya mencapai 30 juta. Di seluruh dunia.

Dia juga eksekutif di World Economic Forum. Bersama ayahnya.
Kini sang ayah lagi menghadapi problem hukum. Yang dia sangat yakin bisa mengatasinya.

Rasanya Ghosn memang terlalu berani mengubah sistem bonus. Yang di Jepang kurang seberani di Amerika. Penghargaan pada eksekutif terbaik di Jepang dianggap kurang memadai.

Jangan-jangan masalah bonus itu intinya. Salah memformulasikannya. Benar di mata Ghosn. Salah di mata penegak hukum.

Atau masalah lain yang belum ada yang tahu.

Mungkinkah Ghosn sedang di Lebanon untuk jabatan politik? Yang di Lebanon memang lagi buntu? Pun sampai hari ini?

Ataukah dia akan pindah ke Tiongkok? Mengapa tiba-tiba berhenti dari Nissan? Mengapa pula bos Nissan Tiongkok juga mendadak mengundurkan diri?
Ghosn bertekad mengungkapkan semua di pengadilan nanti.

Tapi dia sudah terlanjur terjun bebas. Dari ketinggian langit. Dari hero. Menjadi entah apalah namanya. (yog)