SLEMAN-Kushedya Hari Yudo atau kini lebih keren disebut KH Yudo didatangkan PSS Sleman dari Kalteng Putera. Saat masih berkostum Kalteng Putera, Kera Ngalam (Arek Malang, Red) ini kerap merepotkan barisan pertahanan PSS Sleman baik saat bermain di Stadion Tuah Pahoe, kandang Kalteng Putera maupun di Stadion Maguwoharjo kandang PSS Sleman.

Saking merepotkan dan berbahayanya pemain ini, suara-suara suporter bahkan “mendoakan” pemain ini cedera saat main di Maguwoharjo. Atau jatuh saat membawa bola ke gawang PSS Sleman. Selain kecepatan berlarinya kenceng, Yudo juga jago mengeksekusi. Beruntung, PSS Sleman punya barisan belakang yang mumpuni dan penjaga gawang yang cekatan, Ega Rizky. Beberapa peluang Yudo bisa dimentahkan.

Nah. Lain dulu, lain sekarang. Yudo kini justru mulai menjadi pujaan publik PSS. Dua gol yang dia bukukan di kandang Barito Putera di leg pertama 32 besar Piala Indonesia di Stadion Demang Lehman, Martapura, Banjar Baru, Kalimantan Selatan Rabu (23/1) menjadi pembuktian Yudo layak menjadi pujaan baru di Maguwoharjo. Ya, dulu dicaci, kini dipuja.

Dua golnya ke gawang Laskar Antasari – julukan Barito dipersembahkan khusus bagi suporter Super Elang Jawa. Itu termasuk suporter yang meninggal pasca laga celebration game Sabtu (19/1). ”Gol itu saya dedikasikan untuk almarhum M Asadulloh Alkhoiri yang meninggal usai celebration game,” kata Yudo kepada Radar Jogja Kamis (24/1).

Yudo tak mengira dapat melakukan brace di laga perdana kompetisi resmi bersama Super Elja. Sebelum laga, Yudo mengaku sudah memiliki feeling bisa menjebol gawang Barito Putera. ”Sebelum tanding yakin bisa bikin satu gol,” kata pemakai jersey PSS bernomor punggung 99 ini.

Dikatakan keberhasilannya menjungkalkan Barito di kandang lawan tak lepas dari dukungan para pemain lawan yang tampil cukup solid. Tanpa adanya dukungan dari pemain lain, dua gol ke gawang lawan sulit dicapai.

Yudo sendiri didatangkan dari Kalteng Putra pada libur kompetisi. Padahal, di bersama Kalteng perminan pemain berdarah Malang ini cukup ciamik. Maka, tak heran Kalteng Putera pun sebenarnya keberatan melepas sang pemain ke Sleman. ”Sebenarnya pihak Kalteng ingin mempertahankan, cuma saya melihat PSS lebih serius,” jelasnya.

Selain itu, alasan utama ketertarikannya bermain untuk PSS Sleman yakni faktor kedekatan dengan rumahnya di Malang. ”Karena kalau dari Kalimantan saya harus transit dulu ke Surabaya. Kalau dari Jogja kan hanya beberapa jam naik kereta ke Malang,” jelasnya.

Setelah melakoni dua laga bersama Super Elja, pemain berusia 25 tahun ini sudah merasa nyaman. Menurutnya, suasana tim di PSS layaknya keluarga. Pemain lama yang ada di Laskar Semada menganggap para pemain baru layaknya saudara. ”Kekeluargaannya kuat di sini,” terang pengemas 14 gol bersama Kalteng Putra saat mengarungi Liga 2 musim lalu.

Setelah mendapatkan tempat utama di dua laga, tak lantas membuat Yudo berpuas diri. Menurutnya tidak ada garansi dirinya akan menjadi striker utama di Super Elja. Apalagi, saat menghadapi Liga 1 nanti.

Untuk itu dia pun akan terus meningkatkan kualitas permainannya sebelum menjalani liga 1. Caranya dengan menambah porsi berlatih di luar latihan resmi. ”Bisa menambah sendiri untuk menambah skill dan kekuatan fisik,” katanya. (bhn/din/fn)