JOGJA – Memasuki puncak musim penghujan ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja gencar melakukan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Itu merupakan salah satu upaya untuk menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Upaya ini dilakukan bersama dengan Puskesmas terkait untuk menekan adanya tempat nyamuk bersarang. Juga melibatkan warga setempat. Bahkan anak-anak.

“Di kecamatan Danurejan, telah terbentk Laskar Berlian (Bersih Lingkungan Anti Nyamuk). Dimana anak-ana dilibatkan untuk menjadi Jumantik (juru pemantau jentik) kecil,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu kepada Radar Jogja Rabu (23/1).

Di kecamatan Tegalrejo, untuk jumatik nyamuk mengajak anak-anak di sana, yang bergabung dalam asukan Anti Nyamuk Junior Tegalrejo (Panji Tejo)
Hanya saja, lanjut dia, banyaknya kos mahasiswa serta rumah yang ditinggali oleh lanjut usia, masih belum memiliki Jumantik. Dinkes Kota Jogja telah membuat inovasi. Yaitu dengan membentuk satu Jumatik untuk setiap rumah. Itu dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian akan DBD yang bisa mengincar siapa saja.

Data yang dimiliki Dinkes Kota Jogja, terhitung sampai Rabu (23/1), kasus DBD di Kota Jogja sudah mencapai delapan kasus hingga akhir Januari 2019. Angka ini lebih tinggi dari pada Januari 2018 yang hanya mencapai tujuh kasus. Kasus yang ditemukan adalah terjangkitnya anak-anak usia mulai 5 sampai 12 tahun.
“Oleh karena itu, di Sekolah juga ikut diberikan sosialisasi mengenai DBD ke anak-anak,” tuturnya.

Meskipun mengalami penurunan kasus DBD dari 2017 ke 2018. Yaitu 414 kasus menjadi 113 kasus DBD. Endang mengjimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan kebersihan lingkungan. Dia mengaku, masih banyak masyarakat yang hanya memperhatikan bak mandi untuk melihat jenik-jentik nyamuk.

Sedangkan, berbagai tempat seperti kolam ikan, mainan yang terkena air hujan, dan talang air bisa dijadikan tempat untuk berkembang biak. “Selama masih ada air menggenang, itu tidak menutup kemungkinan jentik-jentik nyamuk akan mudah ditemui,” jelas Endang.

Jika pemberantasan nyamuk tidak berhasil, maka jalan terakhir adalah fogging. Endag menegaskan, fogging bisa dilakukan saat satu wilayah terdapat tiga kasus DBD atau kasus menunggal dunia. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir dampak dari fogging.

Fogging dilakukan hanya untuk mematikan nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik masih ada. Fogging yang bebahan kimia dapat berisiko sesak nafas. Bahkan bisa menyebabkan kanker jika dilakukan secara terus-menerus. Serta bisa membuat nyamuk menjadi resisten. “Dilakukan fogging saat ditemukan kasus dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) kurang dari 95 persen,” tuturnya. (cr7/pra/tif)