Nasib Sujaryadi lebih beruntung. Meski warga RT 01 RW 01 Desa Kepek, Kecamatan, Saptosari, Gunungkidul, ini hingga sekarang masih belum bisa berdiri. Tiga pekan setelah digigit ular tanah.

GUNAWAN, Gunungkidul

SORE itu, Sujaryadi beraktivitas seperti biasanya. Mencari rumput untuk hewan ternak peliharaannya. Dia hilir mudik di area persawahan favoritnya. Yang banyak rerumputannya. Tanpa rasa waswas.

”Begitu melompati tanggul tiba-tiba kaki terasa sakit,” kenang Sujaryadi mengingat detik-detik saat kaki kanannya digigit ular tanah. Pria paro baya itu spontan berjalan mundur. Namun, kaki kirinya ternyata juga digigit ular lain. Jenis ular tanah pula.

Hari apes Sujaryadi itu di penghujung tahun 2018. Persisnya Senin (31/12). Sejak itu, Sujaryadi merasakan sakit. Di kedua kakinya.

Sujaryadi dilarikan ke rumah sakit Nurrohmah Gading, Playen oleh keluarganya. Untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, Sujaryadi dirujuk ke RSUD Wonosari sehari kemudian. Sujaryadi menjalani perawatan selama lima hari di rumah sakit pelat merah ini.

”Kemudian dirujuk ke RSUP Sardjito. Dirawat selama lima hari pula,” tuturnya.
Ada berbagai jenis obat yang dikonsumsinya. Dari sejumlah dokter itu. Namun, hingga tiga pekan pascainsiden, kondisi Sujaryadi masih belum kembali normal. Seperti saat Radar Jogja ke rumahnya Rabu (23/1). Kedua kakiknya masih tampak bengkak. Dia belum sanggup berdiri.

”Sekarang sudah mendingan. Dulu, sempat melepuh,” ucap Sujaryadi sembari mengoles kedua kakinya dengan salep dari dokter.

Selain Sujaryadi, ada Masinah yang pernah digigit ular tanah. Namun, kondisinya lebih mengenaskan. Meski, ular berbisa itu hanya menggigit bagian telapak tangan kanannya.

Warga RT 01 RW 07 Pedukuhan Bulurejo, Desa Monggol, Kecamatan Saptosari, ini digigit saat mencari rumput Sabtu (12/1). Untuk pakan hewan ternak peliharaannya.

Satu pekan setelah itu, Masinah hanya bisa terbaring lemas. Kondisinya lunglai. Tangan kanannya melepuh. Warnanya menghitam. Bahkan, perempuan 60 tahun itu sempat muntah darah. Hampir semalaman. Saat menjalani perawatan di RSUD Wonosari.

dr Tri Maharani, pakar toksikologi dan ular bisa mengatakan, ular tanah memang sangat berbisa. Gigitannya beracun. Bisanya merusak sel-sel hingga darah menggumpal (hemotoxin). Juga menimbulkan warna kehitaman karena ekimosis (memar).

”Bisa ular tidak melalui pembuluh darah, tapi lewat kelenjar getah bening,” ungkapnya.

Namun, satu-satunya pakar bisa ular di Indonesia ini menekankan, gigitan ular tanah bisa ditangani. Pertama dengan imobilisasi. Yakni, bagian tubuh yang tergigit tidak digerakkan.”Tenang dan beristirahat. Kurangi pergerakan dan segera ke layanan kesehatan,” paparnya.

Dia juga mewanti-wanti bagian yang tergigit tidak dihisap atau dikeluarkan darahnya. Juga tidak dipijat atau diikat.

”Dan jangan menggunakan obat herbal,” pesannya.

Terkait insiden tergigitnya beberapa warga Gunungkidul, dokter yang tinggal di Kediri, Jawa Timur, ini menaruh perhatian serius. Dia berkeinginan bisa memberikan training kepada dokter dan perawat di Bumi Handayani. Dengan bekal guedeline WHO 2016.

”Gratis,” ucapnya. (zam/fn)