JOGJA – Situasi kebangsaan dan kondisi politik dalam proses berdemokrasi di tahun politik ini rentan konflik. Hal yang wajar sebenarnya terjadinya kontestasi, namun ada hal lebih mendasar yaitu masalah kebangsaan.

Melalui laku budaya ”topo mbisu, mubeng beteng” sejumlah elemen masyarakat di DIJ bergabung untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan penyelesaian beragam masalah kebangsaan.

”Melalui topo mbisu ini berharap bisa beresonansi ke seluruh Indonesia. Mengajak publik agar bisa menyelesaikan beragam masalah secara jernih, lewat laku budaya topo mbisu,” kata Sekretaris acara kegiatan Topo Mbisu, Mubeng Beteng Sukabiwata, Rabu (23/1).

Agenda kegiatan Topo Mbisu Mubeng Beteng dimaksudkan untuk mewujudkan harapan agar kedaulatan NKRI tetap tegak ini akan dilaksanakan pada Kamis malam (24/1) atau tepatnya malam Jumat Kliwon dengan diawali ritual di depan Pagelaran Keraton Jogja.

”Sebelum dilakukan laku budaya topo mbisu, sejumlah ritual dilakukan yaitu pembacaan kidung Pameling, orasi pendek dan pengalungan lawe gelang sebelum dilepas mubeng beteng,” jelasnya.

Ketua kegiatan Topo Mbisu Mubeng Beteng Endardi menambahkan, ada harapan agar NKRI tetap kuat. Melalui aksi budaya ini, diharapkan tumbuh semangat perjuangan kaum nasionalis hadirnya hiruk pikuk di tahun politik ini bisa ditata ulang. ”Ini laku spiritual dan gotong royong bersama banyak elemen,” kata Endardi. (ila)