GUNUNGKKIDUL – Sebagian wilayah Gunungkidul terendam air. Kondisinya hampir mirip saat terdampak badai siklon tropis Cempaka pada November 2017. Meski tak separah kala itu, curah hujan tinggi selama dua hari terakhir cukup membuat resah warga. Terlebih kawasan yang tergenang air di area wisata pesisir Pantai Sundak, Sidorejo, Tepus. Genangan air hujan setinggi 15 – 30 cm merendam beberapa kios pedagang dan rumah penduduk. Pasir pantai tak mampu membendung derasnya aliran hujan hingga membentuk jalur ke laut.

“Korban jiwa nihil,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki Selasa (22/1).

Hujan deras juga menyebabkan puluhan pohon bertumbangan. Di antaranya: wilayah Padukuhan/Desa Banyusoco, Playen; Padukuhan Dengok V, Dengok, Playen; Padukuhan Kwarasan Kulon, Kedungkeris, Nglipar; dan Padukuhan Jimbaran, Tambakromo, Ponjong.

(FOTO-FOTO: GUNAWAN /RADAR JOGJA – GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Pohon jati tumbang di wilayah Banyusoco menimpa rumah milik Partiyah, 75, hingga mengalami kerusakan parah. Sedangkan pohon tumbang di Dengok V menyebabkan jaringan listrik padam dan menutup akses jalan antarkampung. Pohon jati tumbang dan menimpa jaringan listrik juga terjadi di Dusun Kelor Kidul, Kemadang, Tanjungsari. Di Padukuhan Kwarasan Kulon batang pohon tumbang menyebabkan rumah milik Warinem, 68, rusak bagian atap. Warinem membutuhkan bantuan darurat lantaran dirinya seorang janda.

Lalu di Jimbaran rumah Ratmi, 63, rusak ringan setelah tertimpa batang pohon jati. Mengenai bagian dapur. Sementara di Padukuhan Dengok IV pohon tumbang menimpa warung milik Wahono, 47. Hingga tadi malam hanya tiga rumah dan sebuah warung rusak yang terdata petugas BPBD Gunungkidul.
“Pasca kejadian petugas kami sebar untuk melakukan evakuasi di tiap-tiap lokasi,” kata Edy.

Dampak curah hujan tinggi di wilayah Gunungkidul tergolong unik. Karena selalu menyebabkan genangan luas. Lalu surut dalam tempo tertentu. Edy mewanti-wanti masyarakat untuk memperhatikan fenomena alam tersebut. Intensitas hujan tinggi berpotensi memicu ancaman bencana lain. Terlebih jika hujan lebat berlangsung dalam waktu lama.

Merujuk peringatan dini cuaca DIJ, hujan dengan intensitas sedang-tinggi disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi di sebagian wilayah lain di Gunungkidul. Seperti Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, dan Paliyan. Bahkan meluas hingga wilayah Bantul, di antaranya: Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, dan Imogiri.

“Patokannya jika hujan lebih dari dua jam wajib waspada. Entah banjir atau longsor. Meski demikian kami mengimbau masyarakat tetap tenang. Tapi harus selalu waspada,” tegasnya.

Selain waspada efek domino hujan lebat, para nelayan di pesisir pantai diminta tak asal melaut. Ketua Nelayan Pantai Baron Sumar menilai kondisi cuaca pantai selatan Gunungkidul sedang tidak bersahabat.

Meski gelombang laut surut, angin berembus sangat kencang. Sangat rawan bagi nelayan yang nekat. “Apalagi jika disertai hujan lebat. Angin laut berembus makin kencang,” ungkapnya.

Menurut Sumar, pantauan frafik angin laut dalam beberapa hari ini mencapai 18 – 20 knot. Hanya memungkinkan bagi kapal-kapal besar saja yang melaut.

Terpisah, Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul Marjono menyatakan tinggi gelombang laut masih dalam batas wajar. Yakni kurang lebih 8,5 feet. Mengenai angin kencang, menurutnya hanya terjadi di beberapa titik. Tidak di sepanjang pesisir selatan Gunungkidul.

“Aktivitas warga masih normal. Kondisi alam saat ini tak begitu berpengaruh pada sektor wisata,” ujarnya. (gun/yog/fn)