MASIH hangat dibicarakan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, kasus prostitusi yang melibatkan beberapa publik figur kenamaan. Ramai-ramai publik memberikan komentar dengan pelbagai sudut pandangnya. Yang jelas prostitusi bukanlah barang baru di jagat ini, bahkan konon merupakan bisnis yang paling tua dan tidak akan pernah mati sampai kapanpun.

Secara umum, prostitusi berarti menjajakkan diri yang mana merupakan area privat agar memperoleh imbalan tertentu. Jika dimaknai demikian maka tidak saja tubuh yang bisa diprostitusikan, melainkan ide dan juga gagasan. Artinya idealisme seseorang yang juga merupakan barang privat bisa saja digadaikan dengan sebagian uang atau penawaran menarik lainnya. Hal ini sangat rawan terjadi terutama ketika mendekati musim Pemilihan Umum (Pemilu).

Tidak lama lagi, Indonesia akan menghadapi perhelatan politik akbar yaitu Pemilu. Menariknya, Pemilu tahun ini publik akan dihadapkan dengan cukup banyak kertas suara. Mulai dari kertas suara untuk memilih legiselatif dari pelbagai tingkatannya, dan juga yang tidak kalah menyedot perhatian adalah Pemilihan Presiden (Pilpres) dalam satu bilik suara yang sama. Artinya, dalam satu bilik suara kecil tersebutlah nasib Indonesia lima tahun mendatang ditentukan.

Bilik suara yang notabenya adalah ruang kosong bisa saja menjadi seperti labirin yang mampu menggelapkan mata publik. Hal tersebut menjadi masuk akal ketika publik yang mula-mula berniat memilih jagoannya karena melihat rekam jejak, visi, misi, dan program kerja lantas beralih memilih calon lain lantaran uang atau sembako yang diberikannya. Pemilih yang seperti ini yang dikatakan telah menjajakkan hak pilihnya hanya untuk beberapa jumlah uang.

Publik sangat diharapkan tidak tersesat di bilik mungil tersebut. Meskipun ukurannya sangat mungil, namun bilik tersebut mampu menyesatkan banyak pemilih apabila proses pemilihan dilakukan asal-asalan. Tersesat yang dimaksud ialah masa depan Indonesia yang entah akan dibawa kemana jika publik memilih melacurkan idealismenya hanya demi uang sogokan yang bahkan jumlahnya hanya cukup untuk sekali makan saja.

Ironisnya, fenomena money politic (politik uang) seperti yang telah disebutkan di atas seakan menjadi hal yang lumrah, bahkan ditunggu oleh sebagain orang. Publik tidak lagi memiliki idealisme dalam memilih, melainkan hanya mendasarkan pilihannya pada beberapa rupiah saja. Pragmatisme tersebut tentu sangat tidak mendidik, bahkan menjerumuskan publik kepada gaya hedonisme yang kemudian hanya mendewakan perilaku konsumtif tanpa mau bekerja keras.

Jika ada prostitusi idealisme, berarti ada pula muncikari idealisme yang mana dalam konteks ini ialah oknum politisi yang tidak beradab. Mereka hanya mementingkan raihan suara tanpa memedulikan dampak berkelanjutan dari apa yang telah mereka perbuat. Kata-kata yang seharusnya menjadi tolok ukur bahwa seseorang tersebut bisa dipercaya kini sudah sering diabaikan. Tidak jarang kata-kata indah diobral kiloan tanpa ada upaya untuk mempertanggungjawabkannya. Begitulah ulah muncikari idealisme yang hanya memburu keuntungan sesaat tanpa memikirkan kerugian bagi demokrasi jangka panjang.

Tidak heran mengapa belakangan ini sangat ramai dibicarakan praktik prostitusi yang dilakukan oleh beberapa oknum publik figur. Konon mereka melacurkan diri karena untuk menuruti gaya hidup yang selangit, sehingga penghasilan saja tidak akan pernah cukup. Praktik hidup pintas tersebut memang tidak sesederhana kedengarannya, akan tetapi hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang yang menggadaikan idealismenya di balik bilik suara.

Praktik politik yang tidak beretika ini kemudian dimanfaatkan oleh segelintir oknum politisi minim gagasan untuk meraih tampuk kepemimpinan. Bilik suara yang mula-mula sangat sederhana kemudian menjelma menjadi labirin yang sangat rawan menyesatkan publik. Praktik politik uang yang licik tersebut biasanya menyerang masyarakat dengan tingkat ekonomi yang lemah dengan harapan lebih mudah bagi mereka untuk menggadaikan idealismenya.

Akan tetapi satu hal yang terlupakan ialah apabila orang dengan tingkat ekonomi yang rendah justru memiliki solidaritas dan daya juang yang tinggi karena kerasnya kehidupan mereka. Selain itu, mereka justru menjadi perhatian besar dari pemerintah melalui beberapa programnya, sehingga akses terhadap fasilitas publik juga mereka nikmati.

Tidak mudah menawarkan beberapa rupiah saja kepada orang yang sudah terfasilitasi dengan baik oleh pemerintah. Perlu ada tawaran yang lebih menarik seperti program yang mampu menjadi benchmark dari program yang sudah ada. Publik menginginkan gagasan yang lebih realistis, bukan sekadar kata manis dan uang sogokan menjelang pemungutan suara. Oknum politisi yang masih memiliki pola pikir bahwa ia akan menang dengan modal uang tentu tak ubahnya dengan muncikari. Publik diharapkan tidak mudah termakan oleh bujuk rayu oknum politisi sejenis itu karena idealisme untuk kemajuan bangsa tidak bisa dibeli dengan apapun. (ila)

*Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta